glutera

8 Tanda Mulai Berkurangnya Mengalami Bersyukur

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Syukur, merupakan suatu kata yang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Seringkali kita jadi makhluk ciptaannya lupa mau kenikmatan yang diberikan. Seluruh nikmat yang melekat dalam diri kita merupakan nikmat besar yang seharusnya menetapkan kita syukuri setiap harinya. Kalaupun kita bersyukur sejak bangun tidur sampai rebah kembali mungkin kita tidak akan mampu untuk mensykuri satu nikmat saja dibanding salah satu tubuh kita.

Rasa syukur boleh jadi kunci kebahagiaan dengan sayangnya tidak semua karakter menerapkannya. Sebagian bahkan tak sadar apa yang dia lakukan sehari-hari justru membayangkan tanda ia kurang bersyukur, seperti delapan hal pada bawah ini.

1. Membandingkan diri dengan orang lain

Apa yang kita menentang belum tentu yang memang. Barangkali ada seseorang rela makan hanya sehari seluruhnya demi ponsel baru yang ia pamerkan di sosial media. Tapi kita hanya lihat enaknya saja, kan?

Membandingkan muncul dengan kelebihan orang asing hanya akan menumbuhkan mengecap iri dan lupa tersedia begitu banyak karunia yang telah kita terima. Di setiap orang punya jalan hidup masing-masing termasuk soal bahan, fisik, kesehatan, karier, tim, dan banyak aspek yang lain.

2. Sering mengeluh

Orang yang tak pandai bersyukur biasanya bakal mengeluhkan banyak hal apalagi se-simple bilang “Duh… ” saat pekerjaan lagi berat-beratnya. Atau bilang “Yah… ” waktu kenyataan gak berlaku sesuai keinginan. Padahal hanya rintangan kecil dan penuh orang di luar kian yang ingin berada pada posisi mereka namun belum punya kesempatan.

3. Sering memperhatikan cacat diri dibandingkan kemampuan muncul

Minder & rendah diri adalah lengah satu tanda seseorang invalid bersyukur. Padahal setiap orang tentu dibekali kemampuan & keterampilan spesial, tapi karena hanya fokus pada cela diri saja bakat tersebut akhirnya terpuruk.

Sadar akan kekurangan muncul sendiri memang bagus, akan tetapi jangan sampai jadi larangan dan muncul penyesalan. Cobalah lebih peka terhadap keunggulan yang kamu punya & bersyukur karena telah mendapatkannya.

4. Selalu merasa berjuang

Waktu menghadapi sebuah urusan, banyak orang merasa kalau hidupnya yang paling sulit dan tidak ada karakter yang bisa mengerti keadaannya. Padahal ada sahabat, puak, atau bahkan pasangan yang siap membantu dan memberi dukungan saat ia terbuka tentang masalahnya.

5. Melihat suatu perihal secara pesimis

Sebuah keadaan akan ditentukan berdasarkan bagaimana seseorang melihat perkara. Jika hanya fokus pada hal negatifnya sekadar, kita tidak akan pernah belajar dan mendapatkan moral di baliknya. Ia hanya menganggap suatu tragedi jadi kemalangan yang menyesakkan dan menyengsarakan.

6. Merasa lebih banyak kematian daripada menerima

Melihat sebuah cobaan dibanding sisi positifnya akan melaksanakan kita makin bersyukur dan kuat menghadapinya. Rasa invalid bersyukur akan membuat bagian positif ini tergerus aksi pesimis yang membuat seseorang merasa dirugikan.

7. Sering berlarut-larut dalam penyesalan

Kita tidak akan pernah terang ada hikmah di balik masalah jika selalu merembet penyesalan. Padahal sedalam apa pun rasa sesalmu tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Waktu tidak akan terulang kembali, tapi kita bisa kehilangan lebih banyak waktu untuk menyesali ketimbang memperbaiki.

8. Merasa kurang daripada apa yang sudah diterima

Banyak karakter menginginkan kehidupan seperti tempat. Namun dianya sendiri ngerasa kurang. Selalu melihat kehidupan diatasnya tanpa pernah jika melihat kondisi sekitarnya. Pada setiap kali kita mau bersyukur dari apa yang telah diperoleh, kenikmatan dan kebahagiaannya akan selalu menyertai.

Segala hal itu bisa disyukuri, tergantung cara kita memandangnya. Semoga berangkat hari ini kamu bertambah mensyukuri segala hal yang berlaku dalam hidup.

Jika kita mau benar, apakah kita pantas membicarakan diri ini sebagai manusia yang sangat jarang menaikkan rasa syukur?. Bukankah kalau sedikit saja nikmat itu dicabut, maka manusia tersebut tidak berdaya sama sekali. Apakah lidah mampu berlaku jika aliran darah tak mengalir, bukankah saat kecil makanan yang nikmat akan terasa hambar?

Lalu kenapa kita miring sulit untuk bersyukur? Dengan menghambat kita untuk tak bersyukur adalah ketidakmampuan kita untuk melihat sisi nyata dalam hidup dari hal-hal kecil yang sebenarnya luhur. (*)