Ahlan Wasahlan, Pompeo

TIMESINDONESIA, JAKARTA GERAKAN Pemuda Ansor kedatangan tamu istimewa bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW siang itu (29/10/2020). Ia adalah Menteri Asing Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo. Kedatangannya sebagai bagian dari muhibah diplomasi menjelang akhir masa jabatannya.

Amerika Serikat tengah berusaha mendekatkan diri dengan Jakarta termasuk dengan kelompok masyarakat madani Indonesia. Meskipun kunjungan Pompeo ke Gerakan Pemuda Ansor ini dikemas dalam acara bertajuk Nurturing The Shared Civilizational Aspirations Islam Rahmatan li al ‘alamin, tetapi tidak bisa dilepaskan dengan kondisi geopolitik yang tengah terjadi seiring memanasnya hubungan Amerika Serikat dengan China baik dalam konteks perang kulak maupun meningkatnya eskalasi kekuatan di Laut China Selatan. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sekaligus memiliki posisi penting di kawasan Indo Pasific semakin penting di mata kekuatan gede dunia.

Tulisan itu ingin membahas secara singkat dasar dan pengaruh kedatangan Pompeo bagi Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama dalam menghadapi – meminjam istilah Charles Kagley – persaingan kekuatan besar dunia (World Politics, Trend and Transformation, 2007: 91).
Hubungan Amerika Serikat dengan Gerakan Pemuda Ansor
Penuh pihak bertanya tentang apa yang melatar belakangi Menteri Luar Daerah Amerika Serikat mendatangi Gerakan Pemuda Ansor sebagai organisasi keagamaan dalam Indonesia.

Pertanyaan ini bisa kita kaitkan dengan barang apa yang pernah disampaikan Herrington serta McKay dalam pengantar buku Nations Under God (2007: 1) tentang dua hal, pertama, pentingnya kedudukan (kelompok) agama dalam urusan politik luar negeri. Hal ini didasarkan pada temuan bahwa level keyakinan masyarakat di berbagai belahan dunia semakin meningkat dan konsekuensinya, dunia akan menjadi tempat yang semakin agamis.

Kedua, sekalipun agama dan politik dalam berbagai episode sejarah kemanusiaan pernah memaparkan wajah yang berdarah-darah dan sembrono, tetapi dalam waktu dan tempat lain, juga menampilkan varian meyakinkan yang berhubungan dengan penemuan keilmuan, kampanye Hak Asasi Manusia & kebebasan bahkan kreatifitas kebudayaan.

Kedatangan Menteri luar kampung Amerika Serikat ke Gerakan Muda Ansor merupakan peristiwa pertama di sejarah. Meskipun tidak bisa dilepaskan dengan pengenalan negara adidaya tersebut terhadap organisasi sayap pemuda milik Nahdlatul Ulama ini.

Catatan lama yang pernah dilbuat Pemerintah Amerika Serikat tentang Tindakan Pemuda Ansor adalah nota intelijen (intelligent memorandum) yang dikeluarkan Central Intelligence Agencies (CIA) bernomor 1586/66 tanggal 29 Juni 1966 secara judul Indonesian Youth Groups.

Dokumen CIA ini disampaikan ke Gedung Putih untuk dibaca Wakil Presiden Amerika Serikat Hubert Humprey dan Jenderal Maxwell D. Taylor, penasehat khusus Presiden Lyndon Johnson. Selain dianggap berperan dalam kesejarahan Republik Indonesia, CIA pula menyebut Ansor dan Banser dikenal lebih ‘blak-blakan’ (forthright) berhadapan dengan kekuatan komunis dibanding organisasi induknya, Nahdlatul Ulama.

Rencana lama intelijen ini menjadi relevan jika kunjungan Menlu Pompeo porakporanda yang juga pernah menjadi karakter nomer satu di CIA – dianggap sebagai bentuk pengakuan terbuka Amerika Serikat berkait pesatnya kemajuan organisasi Gerakan Pemuda Ansor yang saat ini memiliki anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) lebih dari lima juta orang.

Di luar catatan lama CIA, dalam kurun tiga tahun terakhir Gerakan Pemuda Ansor juga telah melakukan beberapa kunjungan ke Amerika Serikat. Pada Bulan Juni 2017, Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor didampingi Katib ‘Aam PBNU pernah berkunjung ke Washington untuk menaikkan Humanitarian Islam ke berbagai ikatan strategis di negeri Paman Sam itu.

Setahun berikutnya, Bulan Mei 2018, KH. Yahya Cholil Tsaquf, Katib ‘Aam PBNU yang juga emissary GP. Ansor untuk dunia Islam menjadi tamu Wakil Presiden Mike Pence dalam Gedung Putih. Kedatangan Pompeo ke Jakarta bisa diartikan sebagai lawatan balasan sekaligus pengakuan Amerika Serikat terhadap peran yang dilakukan Putaran Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ustaz yang berhasil menampilkan Islam dengan wajah yang moderat, menjunjung kebhinnekaan, sekaligus mampu menjawab tantangan negeri dalam menghadapi ancaman radikalisme & terorisme.

Dalam situasi ini, kunjungan Pompeo bisa dianggap sebagai bagian dari diplomasi
Nahdlatul Ulama di tengah bandul rivalitas Amerika dan China
Sebagai organisasi keagamaan terbesar dalam Indonesia yang menganut prinsip tawasuth (di tengah), tawazun (berimbang), serta tasamuh (toleran) dalam berinteraksi dengan kelompok lain, maka sulit untuk siapapun untuk menarik Nahdlatul Ustaz menjadi partisan dalam menghadapi persaingan kekuatan dunia saat ini.

Di tengah bandul kebijakan luar negeri yang cenderung menoleh ke Barat selama orde hangat, PBNU menunjukkan sikap moderasinya secara melakukan perimbangan melalui pendekatan ke Timur sebagai bagian dari bentuk dukungan terhadap politik bebas rajin yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Anjangsana resmi PBNU ke China atau sebaliknya, kunjungan delegasi China ke PBNU dalam 3 tahun terakhir telah menunjukkan peningkatan yang lulus signifikan seiring dengan meningkatnya ikatan Indonesia-China melalui comprehensive strategic partnership yang ditandatangani pemimpin kedua negara Tahun 2013.

Sikap PBNU ini juga tidak bisa dilepaskan dengan legacy Gus Dur ketika menjabat Presiden yang menjadikan China sebagai negara pertama yang dikunjunginya. Sebuah pesan simbolik sungguh Negeri Tirai Bambu ini hendak menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam lanskap politik dunia.

Secara geopolitik dan geostrategis, kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Presiden Abdurrahman Wahid dianggap lebih assertif dengan melakukan penghampiran hubungan ke negara- negara Asia terutama China, India dan Timur Tengah (Agus S. Rahman, Buku harian LIPI, 2005: 59).

Kita semua berharap kunjungan Gajah Pompeo ke Gerakan Pemuda Ansor selain menjadi sinyal penting kalau Amerika Serikat ingin membina hubungan baik dengan Nahdlatul Ulama. Pertama sayap pemudanya juga ada laba yang bisa diambil Indonesia di dalam rangka memainkan peran-peran strategisnya pada mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemanusiaan dan keadilan serta pedoman bebas aktif. Ahlan Wasahlan, Pak Pompeo! Wallahu a’lam bi asshawab. (*)

* Penulis adalah Imron Rosyadi Hamid. Mantan Sekretaris GP. Ansor Jawa Timur. Kandidat PhD. Hubungan Universal Jilin University-China.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

____________
**) Kopi TIMES ataupun rubik opini di TIMES Nusantara terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan kejadian hidup singkat beserta Foto muncul dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Tulisan dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.