Universitas-Islam-Indonesia

Aktif Prodi Baru, Rektor UII: Pengembangan Teknologi dan SDM Solusi untuk Meningkatkan Independensi

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Tahun ajaran 2021/2022 Universitas Islam Indonesia (UII) kembali membuka Program Studi (Prodi) baru, yakni Prodi Magister Farmasi. Kepastian pendirian Prodi baru ini bersandarkan Surat Keputusan Ditjen Dikti Kemendikbudristek RI.

Rektor UII, Prof. Fathul Wahid dalam sambutannya mengutarakan salah satu tujuan pada Sustainable Development Goals atau SDGs adalah memastikan kesibukan sehat dan meningkatkan ketenteraman untuk semua kelompok sempurna tanpa kecuali.

Menurutnya berdasarkan data lantaran WHO terakhir yang mampu diakses sebelum pandemi, 2018 menunjukan bahwa proporsi berterima untuk kesehatan saat itu terhadap produk domestik bruto, negara-negara berkembang cenderung sedang rendah dibandingkan dengan negeri maju.

Masukan ini memberikan gambaran harmoni pengeluaran bidang kesehatan dibandingkan dengan pendapatan nasional. Angka untuk Indonesia menunjukkan 2, 87 persen. Bandingkan misalnya dengan Inggris 10 upah, Kanada 10, 79 tip.

Berikutnya Jepang 10, 95 persen, Prancis 11, 26 persen, Jerman 11, 43 persen, Amerika Serikat 16, 89 persen. Bahkan peruntukan Indonesia juga lebih nista dibandingkan negara-negara ASEAN, sesuai Myanmar 4, 7 obat jerih, Filipina 4, 4 obat jerih, Thailand 3, 7 komisi.

Fathul-Wahid.jpg Rektor UII, Prof. Fathul Wahid (FOTO: Humas UII for Indonesia)

Nah jika dinominalkan, pada 2018, pengeluaran untuk kesehatan bagi kapita sebesar (USD111, 7). Bandingkan misalkan dengan Inggris (USD4. 315) dan Amerika Serikat (USD10. 624), ataupun bahkan dengan Singapura (USD2. 824).

“Saya yakin ketika pandemi seperti ini, proporsi alokasi anggaran tersebut meningkat. Sektor kesehatan tubuh menjadi salah satu prioritas, apalagi dalam konteks dalam mana pandemi belum dapat seluruhnya dikendalikan, ” kata Fathul melalui daring, Sabtu (12/6/2021)

Alokasi anggaran kesehatan, kata Fathul mempunyai kaitan dengan kualitas kesehatan publik. Ketersediaan infastruktur dan layanan kesehatan memerlukan dana yang tidak mungil. Saat ini, nampaknya tidak sulit untuk bersepakat kalau disparitas kualitas layanan kesehatan tubuh di Indonesia masih benar luar biasa.

Disamping itu, cerita tentang warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan dasar dalam puskesmas saja, misalnya, masih sering kita dengar. Lanjutnya, ketersediaan obat yang berisi di setiap fasilitas layanan kesehatan dan pasar adalah salah satu bagian lain dari ikhtiar menjaga kesehatan tubuh publik.

“Saya menemukan data bahwa 90 persen bahan baku obat Indonesia masih diimpor. Salah satu alasan yang mengemuka ialah bahwa cacah perusahaan nasional yang memproduksi bahan dasar obat di Indonesia sedang sangat terbatas, sehingga tak memenuhi kebutuhan, ” ungkapnya

Fathul memasukkan pengembangan transfer teknologi dan sumber daya manusia dianggap sebagai solusi untuk memajukan kemandirian. Dari persektif asing, pengembangan obat modern asli Indonesia dengan memanfaatkan target baku domestik termasuk tumbuhan herbal nampaknya menjadi tantangan yang harus dipecahkan serta dihadapi secara kolektif.

“Secara hitungan ekonomi kasar, harga obat secara bahan baku lokal, selalu diharapkan lebih terjangkau sebab publik, ” ujarnya

Kehadiran program studi farmasi program magister di UII, kami harapkan bersama, dapat andil memecahkan masalah di atas, dengan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas di bagian farmasi.

Kewajiban untuk memanfaatkan mahadata buat mendapatkan tilikan baru dan membantu peningkatan kebijakan kesehatan tubuh, juga diharapkan menjadikan kalender studi baru ini semakin penting dan sekaligus istimewa.

Terakhir Rektor UII menyampaikan ucapan apresiasi kepada semua pihak kurun lain Ketua Umum PYBW, IAI, LLDikti V D. I. Yogyakarta, Ditjen Dikti Kemendikbudristek RI, para pengajar serta tenaga kependidikan dengan telah membantu dalam metode pendirian Prodi Magister Farmasi Universitas Islam Indonesia. (*)