Akulturasi Islam Kejawen di Tanah Jalawastu

TIMESINDONESIA, JAWA TENGAH – Perkembangan Islam di Jawa menyentuh prestasi yang dinilai cukup signifikan sehingga menghadirkan fenomena Islam Jawa yang unik hingga sampai saat ini adalah pada saat pergeseran kerajaan Islam dari daerah pesisir (Demak) ke daerah pedalaman agraris (Mataram) di bawah kekuasaan Tuan Agung pada abad ke-17. Di masa Sultan Agung ini, mistisme Jawa mengalami perkembangan yang artikulatif. Raja atau sultan dianggap sebagai guru sufi dan kosmologi hindu-budha beretemu dalam wadah sufisme tersebut.

Menurut Taufiq Abdullah bahwa akluturasi budaya Jawa serta Islam di Jawa mengambil bentuk dialogis. Berbeda dengan akulturasi Islam dan budaya melayu yang mengambil bentuk integratif. Islam dihadapkan pada resistensi tradisi dan budaya lokal, sehingga ketegangan dan konflik Islam versus kejawen menjadi ciri istimewa perkembangan Islam di Jawa.

Akulturasi budaya Jawa dan Islam dengan pola dialogis, dipahami bahwa Islam dan budaya Jawa berkomunikasi dalam bentuk struktur sosial-agama. Adapaun bentuk akulturasi dari Islam dan melayu dipahami bahwa Agama islam berkembang dan menjadi salaj satu penyangga terpenting dalam struktur kebijakan melayu.

Kampung Adat Jalawastu sebuah pedukuhan yang ada di Desa Cisereuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Tahun 2016 dukuh Jalawastu dinobatkan sebagai Kampung Budaya yang dilegalkan langsung oleh Tumenggung Brebes Idza Priyanti S. E, sebab sampai saat ini umum Jalawastu masih mempertahankan budaya adat-istiadat. Salah satu budaya yang masih menjamur hingga saat ini dan berkecukupan pada eksistensi ialah upcara ngasa, nama lain dari sedekah bukit.

Upacara ngasa dilakukan setiap tahun satu kali dalam mangsa ke sanga dan di hari selasa kliwon. Upacara ngasa biasanya dihadiri oleh pejabat-pejabat mulia dari Kabupaten Brebes. Pada kamar maret 2020 Kampung Budaya Jalawastu mendapatkan sertifikat dari Kementrian Pelajaran dan Kebudayaan Nasioanal Rebuplik Indonesia bahwa kampung tersebut sebagai warisan budaya tak berbenda, hal tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Brebes dan diserahkan kepada pamangku kebiasaan Jalawastu.

Selain mempunyai budaya yang sangat unik tenggat bertahan sampai zaman sekarang, masyarakat Jalawastu sangat yakin mempertahankan keismalam yang diyakininya hingga saat itu. Islam kejawen dalam konteks karya ini, merupakan Islam yang tak berdasar pada umumnya. Seperti yang kita tahu dengan mata dengan melihat dan telinga yang mengindahkan secara fisik, bahwa orang dengan beragama Islam harus melakukan damai Islam yakni, syahadat, sholat, derma, puasa dan haji bagi yang mampu.

Namun bertentangan dengan Islam yang diyakini sebab masyarakat Jalawastu. Mereka beranggapan bahwa ilmu pengetahuan tentang agama dengan diyakininya merupakan turunan para pemangku, dengan menganut sistem sunda wiwitan, tradisi-tradisi dan adat istiadat yang lain. Tradisi-tradisi yang sampai saat ini masih lestari yakni upacara tundan, upacara tutulak, babarit, ngaguyang kuwu, tong-tong breng dan cako.

Upacara tundan suatu upacara yang dimaksudkan untuk mengusir hama tikus yang dirasa bagi masyarakat tersebut sangat merugikan flora, upacara ini seringkali dilaksanakan kala keadaan sedang darurat dan dihadiri hanya beberapa wakil dari rumpun, mereka mempercayainya dengan melaksanakan upacara tersebut maha sri pohaci ataupun yang diyakini sebagai dewi padi akan menjaga tanaman mereka serta dewa-dewa akan membuat hama zirnikh itu pergi, sebab telah merusah tanak suci yaitu ladang sejak mereka bertani.

Upacara tutulak disebut upacara tolak bala, uoacara tutulak ditujukkan apabila tetangga ada yang desa ada pagebluk hama dan penyakit. Tujuan tutulak yaitu untuk menolak atau mengusir wabah hama dan penyakit dengan datang agar tidak masuk ke kampung, upacara ini biasanya diikuti oleh perwakilan warga setempat. Di dalam konteks Islam, upcara tutulak itu sama dengan tolak bala yakni dengan tujuan untuk menolak aib yang akan datang. Tolak bala yang biasa dilakukan umat Islam pada umumnya ialah dengan membaca doa tolak bala, tidak dikerjakan dengan upacara.

Islam secara luas dan Islam kejawen memiliki kesamaan tujuan, hanya bertentangan cara medapatkan pembelajarannya serta mengaplikasikannya,
Selanjutnya ialah Upacara ngaguyang kuwo biasanya diadakan ketika musim kemarau yang berpanjangan. Upacara tersebut dilakukan untuk meminta hujan sebab lamanya tidak turun hujan. Prosesi upacaranya yaitu dengan cara memandikan kuwu/kepala desa atau kepala dusun di sungai yang dianggap suci yatu curug rambukasang.

Dalam Islam tentu tidak mengenal dengan ngaguyang kuwo, namun biasanya setelah musim kemarau telah muncul dan air semakin langka para umat Islam pada umumnya mengadakan sholat istisqo untuk memohon mengambil hujan, biasanya sholat istisqo ini dilakukan ditengah-tengah lapangan dengan dihadiri banyak orang. Kadang setelah sholat ada yang menyiram imam sholat dengan air dan juga tak, karena budaya masing-masing dari pada setiap daerah.

Ritual slametan juga menjadi salah satu jalan masyarakat Jalawastu dalam mengekspresikan wajah komitmen dan keagamannya. Masyarakat Jalawastu dalam mempertahankan slametan merupakan representasi keagamannya dengan afiliasinya pada animisme. Hal ini dapat dilihat daripada masyarakat tersebut dalam berbagai ritus slametan, magis, perdukunan dan lain-lain. selain upacara yang menjadi tradisi agama Jawa sampai saat ini, tentu ritual slametan dan klenik juga menjadi agama Jawa dengan paling populer dan bertahan mematok sekarang.

Slametan yang ada biasa dilakukan oleh bangsa Jalawastu ialah slametan Syura, maulud dan kamis kliwonan. Masyarakat jaalwastu meyakini bahwa slametan di kamar syuro untuk mendoakan para nenek Jalawastu, karena di bulan syuro merupakan bulan keramat yang dipercaya bahwa bulan tersebut para makhluk gaib sedang dalam puncak kemenangannya. Sedangkan dalam Islam pada umumnya bahwa bulan syuro atau umum menyebutnya dengan bulan muharrom yaitu bulan yang mulia setelah bulan ramadhan, hingga pada saat bulan muharram mereka berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadah.

Slametan mauludan yang biasa dilaksanakan sebab masyarakat Jalawastu berebda dengan kelompok pada umumnya. Lumrahnya kita menghadirkan pengajian dengan diisi oleh ustaz yang dianggap ilmunya telah cakap biasanya menyebutnya dengan Kiai. Tetapi bagai masyarakat Jalawastu slametan mauludam biasa menggunakan rasulan atau tumpengan dan diikuti oleh perwakilan dari masyarakat kampung budaya Jalawastu.

Selain itu bulan maulud diyakini sebagai bulan yang sangat baik, sebab nabi Muhammad ada pada bulan maulud, hingga pada tanggal 12 maulud bagi famili darah leluhur Jalawastu memandikan peninggalan-peninggalan para leluhurnya. Seperti keris, pedang, dan sebagainya. memandikan alat-alat dengan diyakini dari peninggalan leluhur memang harus tapet dibulan maulud. Selasa kliwonan dan kamis kliwonan biasanya dukun atau orang yang dapat menyembuhkan membakar meyan di weton-weton kliwon, dimaksudkan agar kampung itu aman dari bahaya yang akan mengancamnya.

Islam merupakan agama yang rahmatalil’alamin artinya agama bagi semua orang mukmin. Situasi Islam kejawen, Islam KTP, Agama islam Radikal merupakan buan pemikiran daripada setiap perorangan. Sebab kehidupan bergerak pada ruang dan waktu. Periode yang berbeda akan memperoleh pengetahuan yang berebeda pula, artinya walaupun kita sama-sama orang Islam tetapi buah pemikiran kita terhadap Islam tentu akan berbeda.

Sejarah lahirnya Islam telah merekam bahwa Islam lahir di tanah Jawa dan disebar luaskan sebab sembilan wali yang akrab disebut dengan walisongo, artinya keterkaitan jarang Islam dan Jawa wajar sekadar hingga sampai saat ini sedang diyakini dan dijalankan dengan ritual-ritual yang berbeda. Meskipun secara nyata bahwa kita mengetahui Islam kudu sholat dan sebagainya, namun dengan spiritual Islam adalah keyakinan yang ditanamkan pada diri sendiri serta berkembang dalam masyarakat yang bertentangan. (*)

***

*)Oleh: Siti Zulaeka (Mahasiswi Universitas Peradaban Bumiayu).

*) Tulisan Opini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjelma bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Contoh TIMES atau rubrik opini pada TIMES Indonesia terbuka untuk ijmal. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 cakap. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke petunjuk e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan pendapat yang dikirim.