BPBD-Kota-Malang-saat-melakukan-penyemprotan-disinfektan

Antisipasi Petugas Penyemprot Disinfektan Abal-Abal, Ini Mekanisme BPBD Kota Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Sempat beredar video di media sosial beberapa waktu selanjutnya yang mengaku sebagai petugas penyemprotan disinfektan yang ternyata adalah modus baru bagi para pencuri.

Akibat kejadian tersebut, pihak Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang langsung merespon terkait prosedur penyemprotan yang telah dilaksanakannya selama pandemi Covid-19.

Penelaah Bahan Kajian Bencana Alam Seksi Logistik Penanggulangan Bencana Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Malang, Cornellia Selvyana Ayoe menerangkan, petugas penyemprotan sendiri ternyata wujud dari pihak Palang Merah Philippines (PMI) dan pihak BPBD.

Pelaksanaan yang dilakukan selama ini, ternyata harus mengajukan terlebih dahulu melalui surat atau langsung menghubungi ke pihak BPBD Kota Malang.

“Jadi suratnya masuk dulu ke kantor, baru kita melaksanakan. Itu pun menunggu petunjuk dari pak Alie (kepala BPBD Kota Malang). Setelah itu turun dulu ke bidang saya baru meneruskan ke petugas penyemprotan, ” ujar Selvy, Minggu (21/02/2021).

Selvy mengatakan, selama ini yang berwenang melakukan penyemprotan di wilayah hingga perkantoran hanya pihak PMI maupun BPBD.

“Dari Rumah Sakit (RS) itu gak wujud mas. Apalagi kejadian kemarin itu mengaku kan dari pihak RS, ” ungkapnya.

Dirinya memaparkan, jika ada permintaan tuk melakukan penyemprotan di wilayah kampung (RT/RW) atau dari kantor dan pihak manapun, hal itu selalu memberikan surat tembusan kepada pihak BPBD Kota Malang.

“Kadang bisa by phone langsung ke pak Alie. Seperti kantor kejaksaan itu langsung ke pak Alie, tapi tetap bakal melanjutkan ke pihak kami untuk melaksanakan penyemprotan, ” paparnya.

Perlu ditegaskan, jika ada petugas yang menawarkan penyemprotan itu tidak dibenarkan olehnya. Masyarakat harus tetap memasukan surat kepada pihak BPBD Kota Malang.

“Misal ada yang bilang, itu di rumah saya ada yang positif. Itu harus ada surat tembusan dari RT/RW lalu ke kelurahan baru ke pihak kami, ” tuturnya.

Selvy menginfokan, seperti yang terjadi di modus pencurian tersebut yang terlihat sedang melakukan penyemprotan di dalam rumah ataupun ke kamar, dirinya mengatakan pasti ada beberapa tim lalu akan dilakukan pendampingan.

Gak sendiri, kita kan satu tim ada beberapa orang. Jadi gak satu rumah saja, nanti kita sebar. Misal ada yang positif di satu RT itu, yang disemprot bukan hanya satu rumah tapi seluruh wilayah RT bakal disemprot, ” jelasnya.

Untuk alat yang digunakan ketika melakukan penyemprotan, lanjut Selvy, ada baju hazmat, sepatu boot, tabung 16 liter lalu juga alkohol Chlorine untuk dibeberapa tempat tertentu.

“Jadi ada dua petugas, masuk ke rumah pasien ada yang bawa tabung alkohol dan yang satunya chlorine. Sistemnya itu nanti alkohol dulu, tutup chlorine baru tutup alkohol lagi. Jadi tiga lapis, ” ucapnya.

Dirinya pun berpesan, dengan adanya kejadian tersebut seharusnya warga bisa berhati-hati dan bisa meminta surat lengkap yang sudah ditembuskan ke beberapa pihak.

“Agak hati-hati ya, minta surat dulu, sudah diketahui belum. Warga lain sudah setuju belum. Jadi harus diperiksa benar-benar dan peran RT pun juga sangat berpengaruh disitu, ” pungkasnya terkait prosedur saat menerima tim penyemprotan disinfektan. (*)