I-Gede-Alfian-S

Artis Karbitan, Numpang Tenar atau Karya Nyata?

TIMESINDONESIA, SURABAYA MEMBANGUN popularitas di era digital, bisa dibilang cukup mudah. Seorang tak perlu membangun aksara secara serius. Cukup menggunakan media sosial dengan konten yang mampu menyedot ribuan follower.

Tersebut sebuah realita yang terjadi sekarang. Ada sosok yang tanpa sengaja menjadi viral dan terkenal. Ada yang memang memiliki tujuan menjadi popular dengan membuat konten tertentu. Tak jarang, konten yang ditampilkan pun jauh dari norma dan sopan santun.

Yang muncul pada benak mereka merupakan sebuah ketenaran. Bukan pada proses membangun identitas buat menggapai popularitas. Fenomena yang mirip dengan istilah “Karbitan”.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata karbitan kala dilekatkan pada buah dengan matang belum pada waktunya. Seperti Mangga Karbitan. Sapa pun tahu dan bisa menilai rasa buah karbitan. Kesannya manis, tapi menipu. Yang mengonsumsi pun kecewa

Ditambah lagi pada kurun digital seperti sekarang ini, memberikan banyak fasilitas untuk membuat seseorang semakin populer atau populer. Sebut saja aplikasi TikTok, Instagram, Facebook, Youtube, dan sebagainya.

Ada yang cuma menampilkan gerakan-gerakan yang semoga dilakukan dan digemari orang lain. Ada juga hanya meniru video klip dari seorang penyanyi. Semuanya bisa dilakukan dengan mudah dalam aplikasi-aplikasi di atas. Dengan cepatnya menjadi viral semasa banyak digemari viewers.

Bahkan merebaknya aplikasi-aplikasi tersebut mampu menciptakan isyarat artis “Karbitan” yang kini laris manis menjadi kartika tamu di berbagai jadwal televisi. Fenomena seperti ini membuat siapapun yang mau menjadi artis tidak perlu memiliki prestasi.

Berbeda dengan zaman, predikat artis itu kudu memiliki prestasi dan talen di dunia seni indah akting, tari, maupun menyanyi.

Fenomena Bintang film “Karbitan” ini sudah mulai ada sejak beberapa tarikh lalu. Kita pernah ingat Sinta dan Jojo dengan terkenal karena lipsync Keong Racunnya pada tahun 2010 silam. Dengan menirukan lagak Keong Racun, mereka diundang di berbagai acara televisi swasta.

Derasnya penayangan mereka di televisi, membuat nama mereka ternama saat itu. Sinta dan Jojo mendapatkan popularitas, apalagi sempat menjadi bintang propaganda berkat videonya yang viral.

Pada tahun 2011 silam, sebuah video dengan musik ‘Chaiya’ berhasil menggemparkan publik. Dalam video tersebut, terlihat seorang anggota kepolisian Gorontalo lipsync cara tersebut sambil berjoget. Briptu Norman Kamaru, nama penjaga yang viral di video tersebut.

Karena namanya dikenal saat videonya joget India beredar dalam media sosial dan menjelma viral, membuat Norman Kamaru saat itu memilih untuk menjadi seorang artis.

Sayangnya, pilihan Norman Kamaru untuk menjadi bintang film tidak berbuah manis. Dia hanya bertahan beberapa masa saja menjadi seorang selebriti.

Norman Kamaru dinilai karena tergiur secara iming-iming ketenaran dan tanda besar seorang artis. Maka akhirnya ia diberhentikan sebagai anggota polisi karena kerap bolos lantaran sibuk syuting.

Tampil di beberapa acara televisi, lantas tak membuat nama Norman melejit. Norman pun hanya viral sesaat dan perlahan tak terdengar kabarnya.

Menuju penghujung tahun 2020, media sosial tetap ramai dengan kedatangan artis-artis baru yang menghibur. Tidak hanya aktris, aktor dan penyanyi baru saja yang mulai meniti karier dalam tahun ini, namun selalu artis dari media sosial TikTok.

Dalam 2020, media sosial TikTok menjadi salah satu praktik yang begitu populer. Tak heran dari media sosial ini memunculkan artis-artis TikTok. Tidak hanya menghibur, tetapi deretan artis TikTok itu berhasil membuat tren dalam kalangan anak muda. Itu terkenal di TikTok lalu dilirik pertelevisian nasional.

Tak hanya karena media sosial, ada juga artis yang dikenal karena kontroversinya. Begitu ada permasalahan langsung mencuat dan viral.

Namun berbeda halnya dengan para ilustrator yang memang merintis karirnya dengan totalitas. Nama Joe Taslim, misalnya, di negeri seni peran sudah tak asing lagi di Tanah Air maupun Internasional. Kaum kali bermain di film box office dunia mengalem namanya begitu cepat. Seolah-olah Fast Furious, Mortal Kombat, dan sebagainya.

Melalui kegemarannya dalam gerak judo dijalaninya dengan menikmati cinta. Setelah dijalani ternyata ini yang membawanya menjelma salah satu aktor sabung ternama di Indonesia.

Afgansyah Reza ataupun yang dikenal dengan nama Afgan merupakan salah satu penyanyi pria yang sudah meraih kesuksesan di industri hiburan tanah air. Tak terasa perjalanan kariernya sudah menginjak satu dekade bertambah. Tak hanya menyanyi, Afgan pun juga mampu menciptakan lagu dalam album-albumnya.

Namun siapa sangka di balik kesuksesannya tenggat saat ini, ternyata karier Afgan berawal dari rekaman iseng di studio. Peristiwa itu diungkapkan Afgan dalam akun instagramnya. Dalam unggahannya, Afgan mengunggah suara dirinya saat iseng merekam suaranya di satu diantara studio rekaman.

Saat dirinya menyanyi di dalam studio, rupanya menggunakan speaker luar, jadi terdengar ke luar sanggar. Suara Afgan pun didengar oleh salah satu produser di studio tersebut. Hingga kesudahannya Afgan ditawari kontrak rekaman.

Proses menjadi artis terkenal sangat lama. Tak seperti publik bentuk yang belakangan cepat mencuat hanya karena hal dengan berbau kontroversi. Banyak orang mengatakan itu sebagai cara cetak seorang artis ‘karbitan’, atau cepat masak karena tidak melalui proses yang benar.

& pada akhirnya proses itu lebih penting daripada bahan. Sebagaimana diketahui bahwa jalan tidak akan membohongi suatu hasil. Menjadi artis, seniman, dan sebagainya memang tak semudah yang dibayangkan. Bintang film membutuhkan usaha, kerja berpenat-penat, dan ketekunan kala ia menghasilkan satu produk yang mendukung identitas dirinya jadi artis.

***

*) Oleh: I Gede Alfian Septamiarsa, S. Sos, M. I. Kom; Pranata Humas Ahli Perdana Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov. Jatim.

*) Tulisan Opini tersebut sepenuhnya adalah tanggung tanggungan penulis, tidak menjadi arah tanggungan redaksi timesindonesia. co. id

***

______
**)
Kopi TIMES atau ruangan opini di TIMES Nusantara terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto muncul dan nomor telepon dengan bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.