Ledia-Hanifa-Amaliah

Bagian DPR RI Dorong Mendikbud Ristek RI Perluas Pelajaran Vokasi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Komisi X DPR RI menggelar rapat kegiatan dengan Menteri Pendidikan, Kultur, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek RI) Nadiem Makarim di Ruang Rapat Tip X DPR RI, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa 15 Juni 2021.

Dalam jalan itu, Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menekankan bahwa pendidikan vokasi itu tidak cuma bertujuan untuk menciptakan siswa siap kerja. Pendidikan vokasi juga harus mampu me siswa yang bisa menciptakan lapangan kerja.

“Kami masih memandang kalau program yang dibuat bobotnya masih untuk mencari kegiatan, bukan untuk menciptakan kerja. Karenanya kita ke pendahuluan harus makin mengutamakan daya siswa dan mahasiswa vokasi kita agar mereka berharta menciptakan lapangan kerja, ” kata Ledia.

Ia menyampaikan, hingga masa ini belum ada penyelesaian untuk mengatasi masalah penciptaan lapangan kerja. Imbasnya, upaya untuk menghadirkan lulusan vokasi yang berkualitas kurang berjalan maksimal, karena ketika lucut pun para jebolan pelajaran vokasi tetap sulit mendapatkan pekerjaan.

Politisi Fraksi PKS itu lantas menyinggung soal riset & inovasi di perguruan mulia. Kata dia, di tahun anggaran 2022, riset serta inovasi belum tersentuh. Padahal riset dan inovasi adalah amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tetang Pola Nasional Ilmu Pengetahuan & Teknologi.

“Riset dasar harus berkembang dari perguruan luhur, dari situ akan tumbuh riset terapan dan inovasi-inovasi, ” ucapnya.

Mendikbudristek Nadiem Makarim sebelumnya pernah menyampaikan sejumlah permasalahan dengan dihadapi pendidikan vokasi di bawah departemen yang dipimpinnya.

Kata dia, pendidikan vokasi saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan industri sebab beberapa alasan. Diantaranya menumpu kurikulum, kualitas pekerja lulusan, siswa maupun guru.

Kemendikbudristek terus berusaha mengembangkan sekolah vokasi serta mendekatkannya dengan pasar pabrik.

Sayangnya, banyak sekolah belum siap memenuhi kebutuhan industri. Kurikulum misalnya, banyak yang belum cocok dengan kompetensi industri, kemudian rendahnya kompetensi dan kesiapan mental pekerja lulusan, dan minimnya kualitas guru.

Selain itu, masih kata Nadiem, sekolah vokasi juga masih minim wahana sarana prasarana, termasuk invalid kerja sama dengan perusahaan lembaga pemerintah, dan negeri industri.

Arah kondisi itu pula, Kemendikbudristek merancang program SMK Sentral Keunggulan dengan pendekatan negeri kerja melalui 8 link and match.

Ditambahkan, kebijakan pendidikan vokasi sebagai solusi bagi tantangan dan kebutuhan masyarakat meniti kreativitas dan inovasi. Untuk itu, dalam waktu depan, pihaknya akan merilis harga pengembangan kampus vokasi.

Pengembangan pendidikan vokasi ini diakuinya menjadi mulia poin fokus isu nasional sebagai bagian dari upaya peningkatan SDM. (*)