Bencana Besar di Balik Covid-19

Bencana Besar di Balik Covid-19

TIMESINDONESIA, JAKARTA COVID-19 atau Corona adalah suatu penyakit yang sampai saat tersebut masih sangat misteri dan mendirikan seluruh manusia beriman menyadari bakal keterbatasan, kelemahan dan kebodohannya. Dan meyakini akan kekuasaan dan kekuatan serta pengetahuan Allah SWT.

Virus yang sangat mungil, bisa menyebar ke seluruh dunia hingga mengalihkan isu perang sesama manusia menjadi perang virus.

Virus corona yang benar kecil, lemah dan tak terdeteksi secara kasat mata ini pula telah menyebabkan berhentinya proses belajar mengajar, melemahkan ekonomi bahkan mengunci rapat – rapat hubungan antar negara, bangsa, warga, keluarga bahkan antar pribadi serta tempat-tempat peribadatan termasuk Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Sehingga untuk tengah ini umat muslim belum sanggup menjalankan ibadah Umroh dan kunjungan nabawiyah.

Namun bertambah dari itu ada sebuah keburukan yang menyusul dan lebih bahaya dampaknya daripada virus corona yakni penyakit kacau balau dan menikmati ketakutan yang berlebihan.

Hal ini dipicu oleh silih bergantinya informasi yang menghantui, tersebarnya kabar yang mengancam di kelompok, cuitan-cuitan twitter dan bertebarannya WhatsApp yang tidak dapat dibendung tampak setiap saat.

Jadi menciptakan sindrom ketakutan di berasaskan kewajaran, di mana rasa bimbang penyebaran atau penularan virus itu tidak hanya dari orang dengan masih hidup saja, bahkan kaum jenazah yang telah dinyatakan tentu terjangkit virus-pun ditolak ramai-ramai sebab massa dari tempat yang mulia ke tempat yang lain dengan alasan takut akan penyebaran virus jenazah tersebut.

Tatkala hasil analisa medis yang mampu dipercaya, menyatakan bahwa virus dengan berada pada hewan atau pribadi yang sudah mati juga mengikuti mati pula, dikarenakan inang dengan menjadi tempat domisili virus telah tidak dapat berfungsi lagi.

Dan jika dipikir secara logika seandainya virus-virus yang berada pada orang mati itu masih berpotensi menular, maka populasi bani adam tidak akan sebanyak ini sebab sudah terputus oleh virus-virus zaman itu.

Kiranya menetapkan kita menganalisa bersama dengan realita kematian yang disebabkan oleh penyakit keturunan, penyakit tua, penyakit musiman yang memenuhi rumah sakit di mana saja berada, jauh bertambah banyak jika dibandingkan dengan angka kematian yang disebabkan virus corona ini.

Turunnya wabah-wabah semacam ini terjadi juga di zaman sahabat Rasulullah SAW. Tetapi demikian tidak berarti kita selaku manusia yang beriman hanya pasrah dengan dalih yakin atau tawakkal, akan tetapi wajib bagi kita baik secara syar’i maupun aqli setelah mendapatkan informasi yang valid untuk mengatasi diri secara konkret sebagaimana aforisme Rosulillah Saw:

إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا منها (رواه البخاري )

“Jika kalian mendengar tersedia wabah (tho’un) di sebuah bumi, maka jangan memasukinya, dan jika wabah itu terjadi dan kau berada di dalamnya, maka jangan keluar dari tempat itu”. (HR. Bukhori). dengan tentu mengikuti aturan dan tata cara yang telah dianjurkan oleh awak protokoler medical yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah.

Setelah itu marilah kita bersama-sama menelaah sunnatullah yang terjadi di saat nabiyullah Musa as. terjepit dari kejaran fir’aun, Allah ungkapkan:

فأوحينا إلى موسى أن اضرب بعصاك البحر

“Maka kami wahyukan kepada Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut”

Begitupula di saat ada seorang a’rabi (baduwi) mengalpakan untanya tanpa diikat dengan kilah berserah diri kepada Allah, oleh karena itu Rosulullah Saw-pun memberi tuntunan a’qilha fatawakkal “ikatlah untamu lantas serahkan pada Allah”

Dibalik semua ini perlu kita sadari selalu akan adanya sebuah virus atau penyakit yang lebih berbahaya efeknya dibanding virus-virus lain. Karena hasil negatif virus ini tidak cuma mengancam pada penderita saja mengecualikan juga pada seluruh hidup serta kehidupan manusia dalam berbangsa & bernegara.

Penyakit ini adalah penyakit dosa dan maksiat yang dapat menimpa kepada sapa saja yang terformat oleh hawa nafsu yang membuat keras & congkaknya hati, munculnya rasa cemburu, dengki, gengsi, ambisi dan jiwa.

Adapun obat serta penangkal dari virus atau penyakit ini tidak lain adalah bertaubat secara menyeluruh, bersilatur rahim disertai amar makruf nahi mungkar pada siapa saja dengan tetap mengelola etika. Dengan demikiaan akan lahir sikap tanggap dan sadar bakal potensi serta dapat menggali & menformatnya menjadi sebuah energi yang dapat disinergikan secara optimal dan maksimal. Allah Swt berfirman di QS. Hud: 115

وما كان ربك ليهلك القرى بظلم وأهلها مصلحون

“tidaklah Tuhamu menghancurkan sebuah desa sebab kedzoliman sementara penduduknya (antisipatif dan profesional)”.

Semoga epidemi dan musibah yang melanda dunia ini segera lewat terutama di bulan-bulan yang sakral, dalam kamar rojab kita dapat oleh porakporanda oleh dari sidratul muntaha yang dibawa oleh Rosulillah Saw yang berupa sholat dengan segala sakralitasnya, di malam nisfu Sya’ban segenap amal kita disowankan oleh para-para malaikat yang diganti dengan kepingan buku baru, semoga diri kita dijauhkan dari maksiat dan kekhilafan terlebih di dalam bulan ramadhan yang akan tiba, sehingga kita dapat melaksanakan ibadah, baik dengan wajib maupun yang sunnah seperti solat berjamaah dan tarowih, mudarosatul quran dan dapat beri’tikaf di dalam masjid-masjid untuk menyambut hadirnya lailatul qodar.

Hari sundal idul fitri dapat kita rayakan secara seksama, bersilatur rahim antar sesama dengan budaya ketimuran & pola tawassuthul islam, saling tangan berpelukan yang diridloi sebab Allah Swt, Makkah dan Madinah dibuka kembali agar umat Agama islam dari berbagai penjuru dunia bisa menjalankan ibadah haji dan umrah serta ziarah nabawiyah dengan khusyu’ & khudlu’ .

Begitupula seluruh agenda dan kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, politik serta pelayanan umum dapat kembali normal dengan penuh gairah & semangat dalam rangka membangun keturunan dan negara sebagai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur . (*)

***

* Penulis Abuya KH. Mahfudz Syaubari, MA. (Pengasuh PP. Riyadlul Jannah Pacet Mojokerto)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi arah tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau kira-kira 600 kata. Sertakan riwayat tumbuh singkat beserta Foto diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.