Masyarakat-Desa-Sukowilangun-Kabupaten-Malang-membuat-Gaplek

Buah Covid-19, Ribuan Warga Migran pada Malang Mengeluh

TIMESINDONESIA, MALANG – Awak peneliti dari Universitas Brawijaya (UB) Malang mencatat ada ribuan bagian rumah tangga keluarga pekerja migran di Kabupaten Malang yang merasai permasalahan sosial ekonomi. Mereka pula merasa kekhawatiran terhadap keluarga mereka yang bekerja di luar negeri.

Anggota peneliti, Sujarwoto, menjelaskan berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 605 Rumah Tangga secara 1. 926 anggota rumah nikah keluarga migran di Kabupaten Geruh, semua mengalami permasalahan sosial ekonomi serta merasakan kekhawatiran terhadap tim mereka akibat pandemi Covid-19.

“Pada umumnya, keluarga pekerja migran merupakan warga yang beruang pada kelas sosial menengah kebawah yang bergantung pada keluarga mereka yang bekerja sebagai migran buat bertahan hidup. Sehingga, saat pelaku migran mengalami kendala terkait transmisi gaji kepada keluarga mereka pada Indonesia, para keluarga migran serupa terkena dampak secara langsung, ” kata Sujarwoto.

Kesulitan Kirim Uang

Peneliti Universitas Brawijaya (UB), yaitu Faishal Aminuddin, Saseendran Pallikadavath, Sujarwoto, Keppi Sukesi dan Henny Rosalinda mencatat banyak juga dari pelaku migran yang kehilangan pekerjaan sehingga tidak dapat mengirimkan uang untuk keluarga mereka di Indonesia.

Dampak pandemi Covid-19 menyusun perlambatan pengiriman uang ke daerah Malang atau asal wilayah praktisi migran, karena pemberian gaji sebanyak pekerja tertunda, sehingga tidak mampu mengirimkan uang bagi keluarga itu di Indonesia.

“Pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan pekerja migran di luar negeri dan keluarga mereka di Indonesia selama pandemi COVID-19, ” katanya.

Anggota peneliti, Keppi Sukesi mengatakan, lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Malang, yang merupakan salah utama daerah yang banyak mengirimkan praktisi migran ke luar negeri.

Para pekerja migran tersebut umumnya bekerja di luar kampung seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, Taiwan dan Arab Saudi. Itu bekerja di sektor domestik sesuai asisten rumah tangga atau pekerja pabrik.

Sejak terjadinya pandemi, banyak di antara itu yang menghadapi permasalahan ekonomi & berakibat pada tersendatnya pengiriman uang ke keluarga mereka di Indonesia.

“Para pekerja migran umumnya menghadapi masalah seperti terlambatnya pembayaran gaji dan pemberhentian pekerjaan bagi mereka yang bekerja dalam pabrik akibat pandemi. Sehingga, itu tidak bisa mengirimkan uang pada keluarga mereka di Indonesia hingga beberapa bulan. Tidak hanya tersebut, beberapa dari mereka juga menghadapi permasalahan psikologis akibat takut terpapar virus atau tidak bisa kembali ke Indonesia, ” imbuh Keppi.

Sektor Lain Juga Terdampak

Selain itu, tim peneliti UB juga menyampaikan kalau pandemi Covid-19 sangat berdampak di sektor pendidikan anak dari suku migran.

Banyak daripada anak-anak pekerja migran yang pengganggu bersekolah akibat tidak memiliki kanal terhadap jaringan internet. Meskipun pemerintah telah memberikan bantuan sosial berupa bahan pangan dan kuota internet bagi pelajar, akan tetapi di beberapa wilayah persebaran pemberian tumpuan masih dinilai belum merata.

Sehingga keluarga migran dengan belum memperoleh bantuan dari negeri harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam kejadian kesehatan, para pekerja migran serupa mengaku tidak pernah memperoleh bantuan kesehatan dari pemerintah Indonesia. Pemerintah dinilai kurang memperhatikan kondisi kesehatan tubuh pekerja migran yang ada pada luar negeri.

Demikian juga keluarga yang ditinggalkan, dalam umumnya bekerja sebagai petani dalam desa yang tidak memiliki kanal terhadap asuransi Kesehatan yaitu BPJS.

“Dalam riset ini kami ingin melihat masalah apa saja yang muncul dan dengan jalan apa kebijakan yang telah atau sepantasnya dilakukan oleh pemerintah, ” introduksi Prof. Keppy.

Penelitian ini dilakukan dengan kerja cocok antara UB Malang dan Portsmouth University Inggris yang bertujuan untuk melihat bagaimana kondisi sosio ekonomi dan kesehatan para pekerja migran dan keluarga yang ditinggalkan khususnya selama pandemi. (*)