Filantropi di Era Pandemi Covid-19

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Diutusnya Nabi Muhammad ke muka bumi tidak sekedar untuk mengajak manusia melakukan ibadah ritual semata, melainkan melakukan nila-nilai kemanusiaan (filantropi). Disinilah mayoritas tokoh umat muslim berkata bahwa Islam merupakan agama yang konprehensif yang di dalamnya memuat ajaran-ajaran berhubungan dengan Tuhan (ibadah mahdhoh) juga ajaran-ajaran yang berhubungan dengan sesama mahluk Tuhan (ibadah ghairi mahdhoh).

Sebagai pegangan yang mengajarkan hubungan dengan Tuhan, Islam memberikan bekal pengetahuan tentang cara dalam menjalankan perintahNya yang disebut dengan syariat, agar bisa melaksanakan perintah tersebut dengan cantik dan benar. Syariat ini merupakan barometer seseorang dalam melaksanakan perintah Tuhannya. Dan apabila ada seseorang dalam melaksanakan ketaatan kepada Tuhan, namun ia tidak menggunakan syariat sebagai acuan perilakunya, maka kegiatan itu keluar dari ajaran petunjuk. Bagaimana dengan melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat ibadah sosial?

Agama Islam tidak menyampaikan konsep paten berkait tehnis dalam melaksanakan perintah ini. Islam hanya memberikan pemahaman-pemahaman yang besifat umum terkait tujuan yang diinginkannya (maqosidul a’dham). Mayoitas ulama memahami nash yang berhubunngan dengan ibadah baik dari segi maqosidnya bukan semata memahami teksnya semata.

Islam dan Kemanusiaan

Berbagi kebahagiaan dengan sesama pada hakikatnya tidak terikat dengan waktu, tempat dan orang yang mau diberi. Sebab, karakter semacam ini bisa dilaksanakan kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun tanpa melihat perbedaan suku dan pegangan. Praktik ini bisa amalkan dalam kondisi ekonomi yang stabil maupun tidak. Karena ibadah sosial tersebut memiliki fungsi, disamping untuk memberikan keringanan, kesejahteraan dan sebagai alat untuk mempererat ukhuwah serta didalamnya terdapat upaya untuk membersihkan sinting dari sifat kikir. Menjadi invalid sempurna keimanan seseorang apabila dia dalam memberikan bantuan atau berbagi nikmat masih terikat dengan periode, tempat dan orang yang sedia diberi bantuan.

Para-para pengamat dan sarjana seperti Yadh been Ashoor, Ameur Zemmali, Zayyid Ibn Abdel Kareem al-Zayyid, Wahbah al-Zuhaili, Saleem Marsoof, James Cockayne, Jonathan Benthall yang telah menyelami hukum humaniter di Dunia Agama islam berpandangan bahwa gagasan tentang keyakinan dan hukum humaniter masih belum ajeg.

Pasalnya, terlalu kentalnya perbedaan pandangan-pandangan di kalangan ulama islam tentang hal-hal bagaikan jihad, posisi non muslim di dalam masyarakat muslim. Padahal dalam kesibukan kemanusiaan seyogyanya tidak terhalangi sebab perbedaan-perbedaan keyakinan. Ada celutakan yang menarik dari seorang teman beta, masa sih, kalau mau membantu orang harus melihat agama barang apa? Ya, kalau demikian banyak orang-orang yang mati kelaparan. Nabi Muhammad saja, memberikan makan saban hari kepada orang buta yang jelas memusuhi islam dan dirinya dengan penuh kasih sayang tanpa sedikutpun terpengaruh dengan ejekan dan ancamannya.

Pandemi Covid-19, Jalan untuk Berbagi Pada Sesama

Dalam kondisi seperti zaman ini, sangat besar peluang kita untuk berbagi nikmat dan kepuasan dengan orang lain. Dimana umum yang terdampak pandemi covid-19 terlalu banyak sekali. Mereka tidak bisa berjalan dengan maksimal dan bahkan para buruh pabrik, buruh tani, penyalur kaki lima dan selainnya sudah mengalami kesempitan ekonomi. Tidak kurang dari mereka berteriak-teriak untuk menodong bantuan kepada pemerintah dan pada orang lain.

Pegangan mengajak penganutnya untuk hadir dalam tengah-tengah mereka agar bisa menggali bebannya. Tidak dibenarkan menutup serampangan terhadap mereka yang membutuhkan sumbangan, lebih-lebih apabila kita mempunyai kelebihan ekonomi. Nabi Muhammad bersabda, Irhamu man fil ardhi, yarhamukum man fi as-sama (Kasihanilah orang-orang yang tersedia dibumi, niscaya zat yang berkecukupan di langit akan mengasihimu). Pada hadits lain beliau bersabda, laisal mukmin billadzi yasyba’u wa jarahu jaa’iun ila jaanibihi (Bukanlah muslim orang yang kondisi kenyang, sementara tetangga disampingnya kelaparan).

Islam Agama Rahmatan lil-‘Alamin

Islam secara jelas menjelaskan posisinya sebagai rahmatan lil-‘alamin sebagaimana disebut dalam alqur’an surah al-anbiya, 107: “dan tiadalah saya mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Ganjaran yang berati belas kasih kepada semua umat manusia. Berbelas iba dalam melimpahkan nikmat kepada kawasan semesta. Karena itulah umat Nabi Muhammad harus bisa mendatangkan karakter kasih sayang, yang akan berharta mewujudkan kesejahteraan, kedamaian bagi pengikut manusia bahkan bagi alm senesta.

Sebagai umat dengan baik, harus selalu menjaga diri dari ancaman agama agar tak diberi label orang yang mendustakan agama. Mendustakan agama adalah salah satu sifat yang harus di jauhi dan pada surah al-Ma’un digambarkan secara jelas dan ciri bahwa orang yang mendustakan agama diantaranya adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mau berbagi nikmat dengan orang-orang yang membutuhkan. Dan ini merupakan kata kunci seseorang dibebut dengan pendusta agama. Na’udzubillah.

***

*Oleh: Ponirin Mika, Kepala Bagian Ikatan Masyarakat PP. Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community Of Critical Social Research.

*) Gubahan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Nusantara terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto muncul dan nomor telepon yang mampu dihubungi.

*) Tulisan dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.