Syaeful-Bahar

Jaket Banser Abu Janda

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Diakui atau tidak, Permadi Arya memang fenomenal. Dia berhasil menjelma salah satu sosok yang paling banyak dibicarakan beberapa ini, makin mungkin sebanding dengan banyaknya nama Joe Biden disebut dan diperbincangkan. Jika Biden diperbincangkan karena lulus mendepak seteru politiknya, Donald Trump dari Gedung Putih, maka Permadi Arya disorot karena dianggap menebar provokasi dengan serentetan komentar dengan kontroversial, mulai dari komentar rasis yang dianggap menghina Natalius Pigai, hingga ke komentarnya tentang Islam yang arogan. Tak heran, karena perbuatannya tersebut, Permadi Arya alhasil dipolisikan oleh KNPI.

Tulisan ini tak bermaksud cuma membahas tentang kasus yang menimpa Permadi Arya, tapi lebih di dalam atribut yang selalu dipakai Permadi Arya. Tulisan ini tentang jaket loreng yang sering melekat pada tubuh Permadi Arya, tepatnya, ini tentang jaket Banser NU. Itu tentang Permadi Arya yang selalu menyematkan diri sebagai kader Banser.

Tak dapat dipungkiri, bahwa Permadi Arya adalah kandidat Banser. Dia telah mengikuti serangkaian pelatihan sebelum dirinya sah menjadi kader Banser. Permadi Arya pernah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Pokok (Diklatsar) Banser di Majelangka kaum tahun yang lalu. Artinya, secara administratif, Permadi Arya adalah betul-betul kader Banser.

Namun, apakah dengan telah mengantongi kartu identitas kader Ansor lalu dia benar-benar telah menjadi kader NU? Pertanyaan ini tak mudah dijawab. Jika hanya menjadi nahdliyin, tentu Permadi Arya telah sah menjadi nahdliyin, tetapi ketika pertanyaan dilanjutkan pada masalah yang lebih substansial, yaitu apakah Permadi Arya telah benar-benar menjelma nahdliyin sebagaimana termaktub dalam qanun asasi NU? Maka jawabannya tidak semudah pertanyaan pertama. Perlu ada beberapa indikator yang harus diukur sebagai bentuk keabsahan seseorang bakal benar-benar dapat dinilai sebagai kader NU.

Mengukur Ke NU-an Permadi Arya

Hal yang jamak diketahui, bahwa mereka yang mengaku sebagai awak NU, maka setidak-tidaknya ia sudah mengamalkan berapa amaliyah-ubudiyah sebagai awak NU. Misal, dalam hal ubudiyah (ibadah), seorang nahdliyin harus beribadah dengan berpedoman pada kitab-kitab fiqh standar pesantren yang merujuk pada empat imam madzhab, yaitu Madzhab Syafii, Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki dan Madzhab Hambali. Sedangkan untuk rujukan aqidahnya, para nahdliyin, lazimnya akan merujuk pada Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Bubuk Mansur Al-Maturidi. Imam Al Ghazali dan Imam Al Junaidi al Baghdadi menjadi rujukan dalam hal tasawwuf.

Karena pada dasarnya NU didirikan oleh para ulama untuk menjaga tradisi keilmuan yang bersambung (baca; sanad) mematok ke Rasulullah saw, maka tidak heran ketika NU memiliki seperangkat aturan ketat yang harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Misal, di hal pendidikan, NU dan pesantren-pesantren NU telah memiliki rujukan kitab-kitab tarbiyah (pendidikan) yang telah ratusan diajarkan, sehingga tradisi belajar dan mengajar tetap konsisten (istiqamah) sebagaimana tradisi yang diajarkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya.

Dari tradisi belajar itu, akhirnya, semua santri pesantren atau semua warga NU (nahdliyin) senantiasa akan terbentuk sebagai pribadi-pribadi dengan teguh menjaga akhlak karimah, menjaga nilai-nilai perjuangan (harakah) serta memelihara nilai-nilai aqidah ahlussunnah wal jamaah haji an nahdliyah.

Membaca kasus Permadi Arya, serta sepak terjangnya selama ini, hampir mampu dipercaya, bahwa Permadi Arya belum tuntas menjadi Banser, apalagi siap nahdliyin. Bisa disimpulkan, bahwa semua nilai-nilai yang diajarkan di NU dan pesantren, terutama terkait akhlaq dan komitmen ke-Islaman, belum terinternalisasi dalam diri Permadi Arya secara penuh. Permadi Arya masih sampai kulit memahi dan menjalankan ajaran-ajaran NU. Hal ini dapat dimaklumi, karena Permadi Arya bukan alumni pesantren. Dia juga tak terlacak sebagai pribadi yang lahir dan dibesarkan dari keluarga NU. Berikutnya, juga tak ditemukan bukti kalau Permadi Arya memiliki sanad keilmuan pada kiai-kiaii NU. Satu-satunya predikat dan identitas ke NUan Permadi adalah keikutsertaan dia dalam Diklatsar Banser.

Ambillah contoh terkait akhlaq Permadi Arya. Di tradisi NU, mencaci atau menggunakan pribadi lain yang bersifat wujud adalah sebuah prilaku tak sopan yang sangat dijahui dalam kebiasaan pesantren dan NU. Apa dengan dilakukan oleh Permadi Arya pada Natalius Pigai adalah bukti bahwa dia belum bisa menjaga prilaku untuk senantiasa mengedepankan akhlaq di dalam orang lain, bahkan kepada mereka yang menjadi seteru.

Berikut juga pernyataan Permadi Arya terkait Islam arogan juga menunjukkan bahwa dia belum memahami secara utuh terkait pentingnya menjaga lisan dalam hal menjaga Keislamannya. Bahwa apa yang dikatakannya berpotensi merusak keimanan dan keIslamannya. Menghina serta merendakan Islam adalah sebuah pengingkaran (maksiat) atau ketauhidan seseorang. Tentu Permadi Arya tak memahami resiko ini, sekali lagi, itu sebab ketaktahuan Permadi Arya tentang dasar-dasar ilmu tauhid dalam Islam.

Permadi Arya juga tak menyadari bahwa apa yang diucapkan berpotensi melahirkan polemik yang tak perlu. Dalam kasus Natalius Pigai dan pernyataan Islam arogan, nampak sekali, bahwa Permadi Arya sedangkan kegenitan, seperti anak kecil dengan banyak tingkah karena butuh menjawab orang-orang di sekitarnya. Sama sekali tak nampak substansi nilai perjuangan dalam pernyataan dan perbuatan Permadi Arya.

Jika benar Permadi Arya bergerak atas tanda panggilan perjuangan, sebagaimana layaknya kader-kader  Ansor dan NU, maka seharusnya, semua yang dilakukan oleh Permadi Arya sejalan dengan garis perjuangan NU dan atas bimbingan kiai-kiai NU, sehingga semua yang dilakukan mau senantiasa ada dasar ilmunya (syari’ah) dan tak melewati batas-batas akhlaq dan syariah.

Bertentangan ketika, apa yang dilakukan oleh Permadi Arya adalah sebuah roman politik, maka membaca dan menyimpulkannya perlu analisis politik. Beberapa penyelidikan telah banyak dinyatakan oleh kurang orang pengamat, bahkan ada mantan pengurus PB NU yang membuktikan bahwa Permadi Arya adalah seorang penyusup yang sengaja disusupkan ke Banser dengan memanfaatkan longgarnya pola rekrutmen di Banser Ansor NU.

Taruhlah Permadi Arya sebagai pribadi merdeka (bukan wakil yang disusupkan), apa yang dikerjakan oleh Permadi Arya, meskipun secara dalih ekspresi politik, tetap tak bisa dibenarkan. Tak seharusnya, atas nama persaingan dan pertarungan politik, Permadi Arya menyerang pribadi Natalius Pigai. Sekali lagi, hal ini membuktikan kedangkalan Permadi Arya memahami kebiasaan politik di NU. Permadi Arya masih menempatkan politik dan pernak-perniknya sebagai tujuan utama, bukan jadi instrument perjuangan membela Islam dan menjaga NKRI sebagaimana dicontohkan oleh para politisi NU.

Sebagai politisi, Gus Dur dapat menjadi contoh yang sempurna. Betapa Gus Dur pernah menjadi lawan politik Soeharto di saat Tata Baru berkuasa, Gus Dur tidak hanya diamputasi semua eksestensinya, seluruh akses ekonomi-politiknya diberangus, bahkan tak jarang Gus Dur diburu serta diancam keselatan nyawanya. Namun, seluruh kejahatan yang dilakukan oleh adikara Orde Baru pada Gus Dur sama sekali tak menjadikan Gus Dur membenci Soeharto secara awak. Maka, ketika Soeharto jatuh, Gus Dur justru datang mendekat untuk menjadi teman yang baik.

Belajar Dari Kasus Permadi Arya

Belajar daripada kasus Permadi Arya ini, ada dua hal yang penting bisa dijadikan cacatan, pertama, catatan ralat bagi internal NU, terutama untuk Banser-Ansor dan kedua, adalah bagi masyarakat umum yang belum memahami NU dengan baik.

Catatan pertama harus dimulai lantaran sebuah pengakuan dan koreksi muncul bagi Banser, bahwa sistem rekrutmen di internal Banser harus lebih ketat dan rapi. Meskipun, ketatnya sistem rekrutmn di Banser itu tidak boleh memberangus nilai-nilai inklusivitas yang selama ini melekat di Ansor dan Banser. Siapapun dapat menjadi kader Banser dan Ansor, selama persyaratan-persyaratan administrative dan ideologis telah dipenuhi.

Rencana kedua, adalah untuk masyarakat ijmal. Bahwa apa yang dilakukan Permadi Arya tidak bisa disimpulkan sebagai ekspresi Banser dan Ansor. Seharusnya, masyarakat dapat dengan jernih tahu dan membedakan ekspresi pribadi dan ketentuan organisasi. Klarifikasi paling mudah-mudahan adalah apakah ekspresi pribadi tersebut telah sesuai dengan konsistensi nilai-nilai perjuangan yang telah dilakukan sebab NU. Tentu, dengan klarifikasi itu, apa yang dilakukan oleh Permadi Arya tak bisa disimpulkan jadi ekspresi Banser, karena sejak pokok berdirinya, NU selalu mengedepankan akhlakul karimah dan senantiasa memperjungan persamaan hak dan kehormatan setiap bujang manusia di bumi pertiwi tersebut. Artinya, meskipun Permadi Arya sering muncul ke permukaan public secara jaket Banser, itu sama sekadar tidak mewakili Banser secara keseluruhan.

*) Penulis: Moh. Syaeful Bahar, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

*) Tulisan Pendapat ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id