Kaya, Wanita di Cirebon Ini Menyusun Sabun Herbal Bermotif Batik

Kaya, Wanita di Cirebon Ini Menyusun Sabun Herbal Bermotif Batik

TIMESINDONESIA, CIREBON – Jika motif batik biasa dibuat di untuk kain, namun di tangan Yenny Prayogo, batik bisa jadi individualitas lain. Wanita asal Kabupaten Cirebon ini justru menorehkan batik dalam atas sabun herbal. Uniknya teristimewa, sabun bermotif batik tersebut dibuat dengan goresan tangan, bukan terbitan.

Saking uniknya, susunan Yenny tersebut banyak yang melirik, laksana dari perusahaan-perusahaan besar maupun perseorangan. Mayoritas, yang memesan sabun-sabun batik tersebut dibuat untuk cindera ceroboh ataupun hiasan.

Bubuk batik tersebut berdimensi 22 x 22 x 3 cm secara berat 1 kilogram. Masing-masing bubuk memiliki motif dan warna yang berbeda-beda. Kebanyakan, si pemesan bertambah tertarik dengan batik bermotif batik Mega Mendung khas Cirebon.

Yenny menceritakan, pembuatan sabun berbahan herbal ini dilatarbelakangi oleh anak bungsunya yang mempunyai kulit kering. Jika anaknya menggunakan sabun yang biasa dijual pada toko, kulitnya akan semakin kering. Karena itu, dia membuat sendiri sabunnya.

Dalam pengerjaan sabun, Yenny tidak mendapatkan kesulitan. Karena, Yenny sendiri adalah lulusan analis di salah satu kampus di Semarang dan kebetulan menyimpan hobi craft. Hanya saja, dia sempat mengalami banyak kegagalan zaman awal-awal membuatnya.

“Namanya juga baru pertama membuat, beta mengalami kegagalan dulu dalam pembuatannya. Setelah dicoba terus-menerus, akhirnya beta berhasil membuat sabun herbal karakter batik, ” jelasnya saat ditemui TIMES Indonesia di kediamannya, Jl Rajawali Barat, Kelurahan Kecapi Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, Jumat (22/5/2020).

Di awal-awal, lanjutnya, Yenny membuat bubuk herbal berukuran standar. Adapun buat ide awal pembuatan sabun bermotif batik, merupakan usul dari Ibu Ira, istri Wali Kota Cirebon di periode sebelumnya.

Untuk membuatnya, Yenny mengakui kudu berpacu dengan waktu. Pasalnya, zaman sabun sedang dalam proses pengerasan dan dibatik, harus dilakukan secara cepat. Jika tidak, maka sabun akan mengeras dahulu dan akan sulit dibatik.

“Setelah jadi, maka sabun tersebut kudu melewati fase cooling process sebelum bisa dijual, ” ungkap ibu perut anak ini.

Kini, Yenny bisa bersaing dengan buatan sabun herbal lainnya, dengan mempunyai branding sendiri, yakni Jenny’s Nature Skin Care. Bahkan, produknya pernah mendapatkan penghargaan dari Galang UKM menuju UKM Brilian, dan memperoleh predikat UKM Brilian pada 2019.

“Karena mungkin ada keunikan tersendiri dibandingkan sabun yang lain, yaitu ada motif batiknya, ” tuturnya.

Hebatnya, Yenny melakukan semua itu sendiri, sejak mulai produksi hingga pemasaran. Tempat bahkan pernah mendapatkan orderan sejak salah satu perusahaan besar sebanyak 35 pcs sabun motif menggambar besar dan 350 pcs lantaran Kementrian Pariwisata Jakarta. Semuanya dikerjakan sendiri.

“Ada sebenarnya capeknya, tapi seneng ngerjainnya tuh… dan anggap saja menyalurkan kesenangan, ” tutur wanita asal Kabupaten Cirebon yang memproduksi sendiri sabun herbal dengan motif batik ini. (*)