Maraknya Pelanggaran Etika Jurnalistik di Berita Internet

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Seiring berkembangnya teknologi dan pola komunikasi merupakan suatu potensi dengan dapat digunakan untuk hal yang positif. Di satu sisi, jalan dapat mempermudah dalam menyampaikan perintah atau informasi, dan di bagian lain, kehadiran media memberikan efek negatif yang lebih besar untuk kehidupan masyarakat.

Pada umumnya teknologi dibuat untuk membantu memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan bani adam dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Bakal tetapi, dari sisi pengguna, tertib buruknya teknologi tergantung bagaimana kita melihat dan menggunakannya. Pada kesudahannya, positif atau negatif teknologi bersandar dari niat dan motivasi penggunanya yang akan menentukan apakah berguna atau malah sebaliknya.

Media massa selama ini dianggap memiliki kekuatan yang besar dalam mempengaruhi khalayak. Dalam komunikasi massa, dikenal tradisi teori-teori yang menuturkan bahwa komunikasi massa memiliki hasil kuat, seperti teori peluru dan teori jarum hipodermik. Asumsi yang mendasari teori ini adalah kalau media mempunyai pengaruh terhadap massa yang bersifat langsung, cepat, dan sangat kuat. Kajian mengenai efek media massa yang berkembang selama rentang 1920-an dan 1930-an memperlihatkan bahwa teori peluru serta teori jarum hipodermik merupakan salah satu teori yang mendeskripsikan pengaruh media massa yang sangat kuat (Junaedi, 2019: 55).

Laksana yang kita ketahui, media benar mempunyai pengaruh terhadap khalayak luas. Oleh karena itu perlu sekadar adanya pengetahuan secara mendalam menerjang etika jurnalistik bagi seorang angkasawan agar informasi tersampaikan dengan baik. Etika jurnalistik bukan hanya sahih bagi wartawan yang telah tersertifikasi. Etika jurnalistik juga tidak cuma berlaku bagi wartawan yang menjelma anggota organisasi wartawan.

Meskipun belum tersertifikasi dan tidak ikut organisasi profesi wartawan, wartawan harus tetap taat pada etika jurnalitik sebagai bagian integral sebab kewajiban moralnya sebagai wartawan. Etika dalam praktik jurnalisme diperlukan untuk menjamin berita yang diliput & disampaikan melalui media tempatnya menyala diproduksi dengan cara yang benar. Hal ini menunjukkan bahwasannya informasi yang dibuatnya tidak membohongi massa (Junaedi, 2019: 59).

Akan tetapi yang terjadi saat ini, banyaknya pelanggaran-pelanggaran etika jurnalistik yang kurang diperhatikan oleh wartawan dan jurnalis. Salah satunya yaitu membuka identitas pasien. Kode nilai jurnalistik Pasal 7 mengatakan bahwasannya wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk tidak bersedia diketahui individualitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan penetapan, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan. Hak tolak yang dimaksud di sini ialah hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber perlu keamanan narasumber dan keluarganya.

Pada sebuah harian mengatakan bahwasannya pasien Corona tertekan akibat identitasnya tersebar. Pasien mengalami pikulan psikologis karna identitasnya terpublikasi. Kemudian ada lagi sebuah harian mengucapkan bahwasannya Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih dan Lembaga Pakar PB IDI M Nasser menegaskan jika mengungkap identitas karakter terinfeksi virus Covid-19 tidak kontradiktif dengan hukum. Sebab, saat tersebut telah terjadi pandemi Covid-19 dengan global. Dengan dibukanya identitas anak obat kepada publik, ia menjelaskan pemerintah melalui satuan tugas penanganan Covid-19 bisa lebih efektif melakukan contact tracing kepada siapapun yang diduga akan terjangkit Covid-19.

Yang penulis tangkap disini, kalau memang adanya pengungkapan identitas pasien positif corona sudah dibolehkan, hendak tetapi harus tetap menjaga batas-batasannya, juga lebih diperhatikan lagi etika-etikanya. Jangan sampai pengungkapan identitas menghalangi privasi dan kenyamanan pasien serta juga keluarganya.

Tengah itu, Kode Etik Jurnalistik Kuli Indonesia sudah memberikan arahan sejauh mana pers akan menggunakan wewenangnya, terutama yang menyangkut kehidupan pribadi seseorang, seperti tercantum dalam Bab II tentang Cara Pemberitaan, khususnya pada Pasal 6, yakni: ‘Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak melaporkan berita, tulisan, atau gambar yang merugikan nama baik atau perasaan susila seseorang, kecuali menyangkut perhatian umum. ” (Sobur: 2001: 87).

Dalam konteks etika jurnalistik, tidak melanggar privasi merupakan mematuhi hak untuk sendiri dengan dimiliki individu, baik yang menjelma objek pemberitaan maupun yang menjadi narasumber. Pelanggaran terhadap hak tersebut sering terjadi karena ada anggapan di kalangan wartawan kita, bahwa peristiwa rutin tidak akan menghasilkan sebuah berita, dan karena tersebut mereka akan mencari peristiwa yang luar biasa. Sesuatu yang asing biasa selalu menarik perhatian orang (Sobur: 2001: 87). Dapat disimpulkan bahwasannya banyak sekali kasus media-media berita online kerap kali membawakan berita dengan mengungkap privasi narsumber atau korban agar menarik menghiraukan banyak orang. Jelas sekali itu sudah melanggar kode etik jurnalistik.

Pada sebuah penelitian, didapati bahwasannya manfaat Kode Etos Jurnalistik bagi wartawan dengan fenemologi plagiat berita foto masih kerap terjadi. Hal ini karena pada setiap wartawan mengambil tindakan dan mengambil sikap dengan memanfaatkan fasilitas sesuai internet dan kurangnya pelatihan yang diberikan kepada wartawan yang sedang tergolong baru. Maka wartawan yang tergolong baru masih sering melaksanakan plagiat berita, dikarenakan kurangnya pemahaman wartawan tentang kode etik, dan juga masih belum mengerti secara isi dari kode etik jurnalistik.

Maka, sebaiknya diberikan pelatihan tentang pemahaman kode ideal bagi setiap wartawan agar ke depannya bisa lebih baik teristimewa dan menaati aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam kode etik junalistik. Begitu juga kepada pimpinan sidang pengarang yang lebih sering memberi titah kepada setiap wartawan dan mengoreksi kembali isi berita fakta dan sumbernya agar tidak menjadi permasalahan kemudian hari (Tatipang, 2013: 10).

***

*) Oleh: Indah Kiyani Mubsir, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya ialah tanggung jawab penulis, tidak menjadi arah tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 watak atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Memotret diri dan nomor telepon dengan bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Sidang pengarang berhak tidak menayangkan opini dengan dikirim apabila tidak sesuai secara kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.