Mempercakapkan Agama, Tuhan, Ruh dan Corona

TIMESINDONESIA, MALANG – Saya punya pengalaman yang amat mengesankan. Ketika itu diajak memperbincangkan keyakinan oleh tokoh pemeluk agama yang berbeda dari agama saya. Sedemikian mengesankannya sehingga sulit terlupakan.

Dari pengalaman ini, hamba menjadi ingat pelajaran agama di lembaga-lembaga pendidikan yang selama itu dipandang oleh semuanya sangat penting.

Mau tahu kemahiran saya? Begini ceritanya. Suatu masa saya diajak berdialog dengan para pendeta. Jumlah mereka cukup banyak. Sementara saya yang muslim hanya sendirian.

Dialog dikemas secara informal. Mungkin kami mau memperoleh esensi atau substansi dialog saja. Bukan yang bersifat halal.

Dialog ini tunggal berlangsung lama. Hampir sehari penuh. Saya diajak bicara dari kepala ke hati. Tentang agama.

Dialog ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar. Bukan pula ingin menyalahkan & merendahkan. Apalagi menghina.

Para tokoh agama yang meminta berdialog hanya ingin tahu. Barang apa? Bagaimana masing-masing memahami agamanya.

Beberapa pertanyaan dalam dialog itu saya rasakan ada yang sangat mendalam. Pertanyaan yang selama ini belum pernah saya dengarkan.

Satu di antaranya misal, dikatakan bahwa konsep ketuhanan yang dianggap paling tidak jelas adalah Islam. Disebut bahwa Tuhan umat Islam adalah esa, tunggal, minggu. Namanya adalah Allah.

Selama ini bagi umat Agama islam sudah dianggap jelas. Bahwa Tuhannya adalah Allah. Itulah yang dikenal dengan bertauhid.

Di dalam dialog itu salah seorang bertanya. Siapa sebenarnya yg bernama Tuhan itu? Bukankah “Allah” itu tanda. Siapa yg memiliki nama tersebut? Siapa pemilik yang bernama Tuhan itu?

Mereka berargumentasi. Bahwa tahu yang punya tanda jauh lebih penting dari sekedar tahu namanya. Bahkan disebutkan kalau justru yang terpenting adalah tahu yang punya nama.

Selama ini mereka mengaku pernah bertanya kepada sekian banyak orang. Namun ternyata diperoleh jawaban yang beraneka ragam. Atas jawaban yang banyak macamnya itu, mereka berkesimpulan bahwa sebenarnya selama ini tidak ada yang tahu tentang Tuhan. Sekalipun sehari-hari disebut dan disembahnya. Itulah sebabnya ketuhanan Islam disebut yang paling tidak jelas.

Masih dalam persoalan ketuhanan. Yang disebut membingungkan adalah dianggap bahwa Tuhan umat Islam itu Esa. Akan tetapi mereka mengaku seringkali memperoleh penjelasan bahwa Tuhan itu dekat. Bahkan lebih depan dari urat leher.

Lebih dari itu. Disebutkan bahwa Tuhan berada di masing-masing dada setiap orang. Tuhan juga ada di mana-mana. Informasi seperti tersebut menjadikan mereka semakin merasa kecemasan dalam memahami konsep ketuhanan dalam Islam. Disebutnya bahwa Tuhannya Satu, Esa, Tunggal. Tetapi keterangannya selalu menunjukkan banyak.

Untuk pertanyaan tersebut, saya menjawabnya. Bahwa sebenarnya yang tidak jelas itu bukan saja tentang Tuhan. Tetapi juga menyangkut diri kita tunggal.

Kita sendiri ini sebenarnya siapa? Apakah kita pernah kenal dengan diri kita sendiri? Jika diri kita sendiri saja tidak mengenalnya, apalagi Tuhan yang kita tidak pernah menemuinya.

Jika kita semua merasa kenal dengan diri kita per, saya mencoba bertanya. Pertanyaan tersebut, saya tujukan kepada salah seorang di antara peserta dialog. Saya meminta agar dijawab secara jujur.

Saya menanyakan, kaki siapa itu. Segera dijawab bahwa ini adalah kaki saya. Saya katakan; benar. Selanjutnya, berturut-turut saya menanyakan tentang siapa pemilik tangan, tanda, telinga, rambut, kepala, hingga tubuhnya secara keseluruhan. Dijawab bahwa semuanya adalah milik saya.

Terakhir saya bertanya. Siapa yang memiliki kaki, tangan, telinga, lupa, kepala dan seterusnya? Sampai pada sini, ternyata dia kebingungan. Kami beritahukan bahwa, saya yang dimaksudkan itu adalah ruh. Di mana ruh itu berada di dalam dada kita masing-masing.

Agar lebih jelas, pertanyaan aku lanjutkan. Ketika nanti malam kita tidur, bukankah mata kita sedang ada. Telinga masih ada, ribut masih ada, otak masih ada, dan seterusnya. Tapi mengapa kala tidur, kita tidak bisa tahu, mendengar, berpikir, dan seterusnya.

Ternyata pertanyaan tersebut tidak ada yang menjawab. Akhirnya aku berikan jawaban bahwa ketika kita tidur, sebenarnya yang punya mata, telinga, otak, dan semua yang lain berpisah dari tubuh kita.

Itulah sebabnya, semua set tubuh kita tidak berfungsi karena yang punya sedang pergi. Hangat setelah bangun dari tidur, artinya ruhnya telah dikembalikan, maka semua perangkat dimaksud dapat difungsikan balik.

Hal demikian tersebut juga sama ketika ruh telah pulang selama-lamanya. Atau disebut sudah mati. Maka tubuhnya akan lekas membusuk. Karenanya harus segera dikuburkan.

Mendengar penjelasan itu, saya kemudian bertanya lagi. Apakah penjelasan tentang hakekat diri kita masing sudah jelas dan apakah ada alternatif penjelasan lainnya? Dijawab bahwa penjelasan tersebut sudah pas dan bahkan dipandang baru dan benar.

Atas penyungguhan itu, saya menjelaskan, jangankan mengenai Tuhan yang masih membingungkan, tatkala itu diri kita masing-masing saja belum kita kenali dan apalagi jelas.

Tentu kemudian setelah itu, saya memberikan penjelasan tentang siapa sebenarnya yang diberi sebutan Tuhan oleh umat Islam. Mendengarkan penjelasan tersebut, akhirnya itu mengaku jelas.

Piawai berdialog tersebut menjadikan saya berpikir, bagaimana mengajarkan Islam secara bertambah tepat, sehingga berhasil melahirkan orang-orang yang paham dan mampu mempertanggung-jawabkan kebenaran atas keyakinan agamanya. Selain itu agar mereka menjadi karakter yang benar-benar beragama dan bukan sekedar tahu tentang agama.

Melalui pendidikan agama sepatutnya kualitas keberagamaan menjadi tangguh di tengah-tengah masyarakat yang semakin terbuka, modern, dan rasional. Selama itu, saya melihat bahwa yang dihasilkan oleh pendidikan Islam masih belum kokoh. Bahkan dilihat dari bagian perilaku yang dihasilkan masih belum tampak ada distingsi antara yang lulus dan yang belum. Jarang yang disebut ahli agama & yang bukan ahli.

Apalagi kualitas itu jika dilihat dari hal yang lebih berpegang lagi. Yaitu menyangkut perilaku dengan dihasilkannya sebagai penyandang akhlak fadil sesuai misi kehadiran Islam tersebut sendiri.

Selama itu saya merasakan, pendidikan agama ialah menjadi sesuatu yang amat istimewa. Pendidikan agama menyangkut keselamatan. Indah di dunia maupun akherat. Pelajaran agama juga memberikan bekal sebagai warga negara yang baik serta berkualitas kepribadiannya.

Kalau persoalan ini tidak mendapatkan menggubris serius akan berbahaya. Bahkan bahayanya melebihi virus corona yang disebut-sebut mematikan. Ngeri bukan? (*)

*) Penulis adalah Prof Imam Suprayogo (Guru Besar UIN Sial, Ketua Dewan Penasehat DPW SAHI Jawa Timur, dan Anggota Sidang Pembina Yayasan UNISMA Malang)

*)Tulisan Paham ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka buat umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup kecil beserta Foto diri dan cetakan telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan pendapat yang dikirim.