M.-Izzuddin-Rifqi

Mereka yang Menulis dengan Asik dan Menggembirakan

TIMESINDONESIA, MALANG – “Cuma menetapkan satu buku untuk melorot cinta pada membaca. Cari buku itu. Mari membaca” Kutipan kalimat dari Mbak Najwa Sihab tersebut agak-agak tidak asing lagi dalam telinga kita. Di beberapa kesempatan, terutama berkaitan dengan literasi, kutipan tersebut tetap hadir menghiasi. Jika dibikin luwes lagi maknanya, tentu kita bisa mengubah prawacana “buku” dengan sembarang referensi. Entah itu artikel, koran, majalah atau sejenisnya.

Beberapa tahun lalu, ketika saya masih berkecimpung di perpustakaan pondok, saya memiliki kenangan yang cukup menyenangkan dengan koran. Koran yang saban hari minggu menyuguhkan kolom AS Laksana itu selalu membuat saya semangat untuk membaca dan menunggunya. Meski muatan tulisan yang terhitung mengandung untuk ukuran pemuda seusia saya saat itu, saya tetap bisa menikmati keelokan diksi dan cara Bungkus Sulak (sapaan AS Laksana) menggambar kalimat. Kolom-kolom dengan beliau isi setiap minggunya di koran Jawa Congkong itu menjadikan saya kerap dan mencintai kegiatan membaca.

Setelah beberapa tahun mengikuti dan membaca tulisan-tulisan beliau (baik cerpen atau esai), saya semakin kagum dan mencari terang lebih jauh tentang siapa sebenarnya AS Laksana. Tetapi, sialnya, saya tidak benar-benar menemukan akun media sosial yang bisa merekam kesibukan atau mendeskripsikan hobi atau apapun yang bersinggungan secara kehidupan beliau. Yang aku jumpai hanya sebatas akun (halaman) Facebook yang bernamakan “AS Laksana”. Itu pula nyaris semua postingannya tentang tulisan-tulisan dan opini dia. Ya, begitulah para setia besar, mereka selalu hidup dalam kesunyian.

Ketika membaca karya-karya dia, saya seperti menemukan prinsip dan solusi permasalahan membaca yang sangat melimpah. Bukan, yang saya maksud tidak karena tulisan-tulisan beliau tetap memberikan teori tentang pentingnya membaca, tapi yang hamba maksud adalah gaya tulisan dan seni beliau pada menyampaikan gagasan itu dengan menyebabkan saya mencintai kesibukan membaca.

Ada salah mulia kutipan beliau yang membekas di benak saya, lebih kurang seperti ini; “Jika kalian berharap minat baca klub meningkat, maka kalian kudu menulis dengan sungguh-sungguh. Benar tidak masuk akal, serta mungkin juga tidak tahu diri, mengharapkan orang-orang suka membaca sementara kalian menulis sembarangan. ”

Tentu saja apa dengan Pak Sulak utarakan itu bukan sekadar gertak sambal belaka. Ada harapan dan kritik yang jauh di sana. Memang kita sudah saling mengerti bahwa selera dan daya baca asosiasi kita sangat menggetirkan. Tidak perlu lagi saya jelaskan data atau fakta semacam apa maksud menggetirkan itu. Lebih jauh lagi, manuver membaca yang selama ini kita gaungkan, seakan sudah menjadi jargon usang, seremonial dan kegiatan yang mudah-mudahan ditinggalkan. Memang pernyataan tersebut terdengar serampangan, tetapi begitulah ironinya.

Bila di-brackdown lebih dalam sejak pernyataan Pak Sulak tersebut, saya mendapati tiga kesimpulan, kira-kira seperti ini; perdana, kita cenderung mengkampanyekan adat membaca dengan hal-hal yang menjemukan dan membosankan ataupun jargon-jargon usang lainnya. Kedua, kita terlalu menggebu-gebu di dalam megajak dan mengkampanyekan budaya membaca tanpa memberikan secara jelas bagaimana limitasi status dan orientasi kegiatan membaca itu sendiri. Sehingga, kegiatan membaca yang semula terdengar istimewa, pada akhirnya menjelma kegiatan yang “biasa-biasa” serta seremonial belaka.

Dan yang ketiga adalah ketidaksadaran kita akan pentingnya menyuguhkan dan menghadirkan gubahan yang asik dan menggembirakan. Seperti frasa pada kalimat terakhir Pak Sulak dalam atas; kita terlalu sering dengan “sembarangan menulis”. Tidak memperhatikan bagaimana sebaiknya tulisan dibuat. Singkatnya, kita terlalu nyaman menulis dengan teledor. Dan tentu saja, pokok ketiga ini adalah masalah yang sangat rentan dikerjakan oleh penulis di kala yang serba instan tersebut.

Ada salah satu esai beliau berjudul Kampanye Membaca dengan Gong dan Slogan yang dengan eksplisit dan blak-blakan menyikapi bagaimana semestinya masyarakat kita paham betul perihal pentingnya membaca. Ada sembilan ringkasan yang beliau cantumkan dalam esai tersebut. Saya akan kutip salah satu butirnya dengan mentah-mentah; “Membaca membuat suatu masyarakat mampu memahami mutasi dan setiap individu dalam masyarakat itu bisa berperan aktif untuk mewujudkan perubahan. ”

Sepertinya salah satu poin yang Pak Sulak jelaskan dalam esai tersebut sudah cukup jelas dan betul memahamkan. Jika kita mencagarkan suatu perubahan, entah pada bidang ekonomi, politik, pelajaran atau apapun itu, oleh sebab itu kita harus mampu menciptakan lingkungan dengan masyarakat dengan gemar membaca. Dengan membaca, setidaknya kita telah melunasi atau menunaikan syarat-syarat suatu perubahan. Jika tidak, tanpa berharap akan ada transisi pada masyarakat kita. Ataupun kemungkinan terburuknya, kita hendak mengalami keterpurukan yang tidak terperi.

Bertambah jauh lagi, Pak Sulak juga menulis esai secara tema serupa, seperti Langgeng Kerdil, Setelah 71 Tarikh, Melamunkan Partai Indonesia Membaca, Mewajibkan Polisi Membaca Sajak dan esai-esai laninya dengan tentu saja tidak agak-agak saya cantumkan semuanya di sini.

Namun, dibanding tulisan-tulisan yang telah beta sebutkan di atas, tulisan-tulisan lain yang tidak membahas secara emplisit tentang pentingnya membaca juga nikmat buat dibaca. Dari Pak Sulak kita bisa belajar, bahwa mengkampanyekan budaya membaca era ini tidak melulu harus mengkhatamkan satu buku dalam kurun waktu satu bulan atau lima artikel selama satu hari. Namun yang perlu kita ubah agar lebih elegan dalam melatih membaca ialah dengan memproduksi tulisan yang asik & menggembirakan.

***

*)Oleh: M. Izzuddin Rifqi, Pemangku Direktur Lembaga Kajian, Pengkajian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) UIN Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung pikiran penulis, tidak menjadi bagian tanggungan redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke petunjuk e-mail: [email protected] co. id

**) Sidang pengarang berhak tidak menayangkan pendapat yang dikirim apabila tak sesuai dengan kaidah & filosofi TIMES Indonesia.