Mudik dan Risiko Penyebaran Covid-19

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Secara konseptual mobilitas penduduk adalah gerakan penduduk dari tempat asal menuju tempat tujuan dalam waktu tertentu secara orientasi ekonomi, sosial, agama maupun budaya. Penelitian mobilitas di asing negeri banyak menghasilkan temuan bahwa mereka bergerak kebanyakan untuk tujuan ekonomi, sedangkan di Indonesia, tersedia pola yang unik, ketika musim lebaran tiba, banyak yang melakukan mudik untuk bertemu dengan keluarga mulia di daerah perdikan atau wilayah asal.

Dalam teori mobilitas klasik dikatakan bahwa ada kaitan antar mobilitas dengan interaksi desa-kota dan berujung pada peningkatan kesejahteraan dan mobilitas sosial. Oleh sebab itu mobilitas penduduk mengandung pendekatan geografi karena ada unsur ruang dan waktu. Mobilitas penduduk menurut bentuknya ada mobilitas permanen seperti migrasi, transmigrasi dan mobilitas non langgeng seperti menginap, nglaju (bergerak serta kembali pada hari yang sama).

Gerakan penduduk mampu terjadi dari desa ke kota atau dari kota satu ke kota lain atau sebaliknya sejak kota ke desa. Gerakan penduduk dalam prosesnya akan terjadi banyak aktivitas interaksi antarmanusia baik sebelum perjalanan, saat berada dalam kunjungan maupun saat mencapai tempat tujuan.

Seiring dengan pandemi Covid-19 yang menyebar begitu segera lewat interaksi antarmanusia, maka petunjuk mobilitas penduduk ini berdampak di tingginya resiko penyebaran virus dengan kita kenal dengan Covid-19 itu.

Gerakan penduduk pribumi yang terjadi dalam suatu negara dapat bersifat sementara dan kekal. Gerakan penduduk yang bersifat kekal misalnya transmigrasi dan urbanisasi, sedangkan gerakan yang bersifat sementara misalnya piknik, nglaju dan mudik. Dibanding tiga contoh gerakan sementara tersedia yang bersifat unik dan terjadi dalam jumlah besar yang jadi hanya terjadi di Indonesia yaitu mudik.

Mudik taat kamus besar bahasa Indonesia mempunyai dua arti. Arti yang prima mudik adalah pergi ke kampung, yaitu pulangnya penduduk kembali ke desanya di pedalaman. Secara geografis desa pada jaman dulu biasanya terdapat di udik atau desa sedangkan kota berada di hilir. Pengertian mudik yang kedua diartikan pulang ke kampung halaman. Daerah halaman dalam hal ini bermakna tempat atau tanah kelahiran.

Mudik dalam pandangan umum masyarakat Indonesia merupakan fenomena pergerakan penduduk yang bersifat unik dan terjadi setiap tahun kurang bertambah seminggu menjelang lebaran. Aktifitas mudik ini dilakukan oleh pendatang lantaran luar kota yang menetap periode di kota dan pada saat lebaran pulang kembali ke dukuh atau kampung halaman tempat kelahirannya.

Rasa rindu secara orang tua, saudara dan keluarga yang ditinggalkan mendorong mereka mudik ke tempat asal. Secara ekonomis mudik merupakan bentuk pengeluaran keuangan yang besar pada setiap karakter yang melakukannya, tetapi mereka tidak mempermasalahkan karena bagi mereka persahabatan persaudaraan adalah perkara yang sakral serta bernilai tinggi jika dilakukan.

Jadi mudik mengandung perbedaan budaya bahkan perintah agama sebab silaturahmi adalah mengikuti hadits Nabi Muhammad saw. Kata Nabi, bila engkau ingin diperpanjang umurnya, diperluas rezekinya, lakukan silaturahmi.

Saat ini dunia tengah berkecukupan dalam ancaman wabah Covid-19. Penyebaran Covid-19 ini bersifat pandemik dengan berarti menyebar dengan cepat di wilayah luas ke seluruh negeri termasuk Indonesia. Misalnya dilansir sebab yogyakarta. kompas. com kasus Covid-19 yang terjadi di kabupaten Gunungkidul DIY pada akhir Maret 2020 terdapat 1 orang dinyatakan tentu terjangkit Covid-19 hingga pada rata-rata April 2020 bertambah menjadi 5 orang positif Covid, 900 lebih termasuk ODP (Orang Dalam Pengawasan), dan lebih dari 50 orang dalam status PDP (Pasien Dalam Perawatan).

Penyebaran dengan cepat ini menyebabkan lumpuhnya bermacam-macam sendi kehidupan di dunia sehingga membuat pemerintah di beberapa negeri menerapkan berbagai macam pembatasan aktifitas penduduk seperti larangan berkumpul bersama-sama dalam jumlah banyak hingga melakukan lockdown baik untuk wilayah terbatas hingga seluruh wilayah di negaranya. Salah satu contoh pembatasan pekerjaan yang lain adalah dengan melarang penduduk untuk melakukan perjalanan jauh karena dapat berpotensi membuat virus lebih cepat menyebar.

Dari berbagai bentuk pembatasan aktivitas untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 di atas, maka kegiatan pegangan lebaran yang selalu dilakukan oleh banyak penduduk di Indonesia tersebut tentu sangat riskan untuk dilakukan. Mudik lebaran selalu dilakukan oleh penduduk Indonesia dalam jumlah gede.

Dilansir dari nasional. kompas. com memberitakan jumlah pemudik lebaran dari tahun 2013 – 2018 rata-rata mencapai 21, 32 juta orang pertahun. Sedangkan bukti pada tahun 2019 yang berserakan dilansir dari tirto. id, Menteri Perhubungan Budi Karya menyampaikan bahwa pemudik lebaran pada tahun 2019 yang lalu mencapai 18. 343. 201 orang baik yang mencuaikan moda darat, laut, udara maupun kereta api.

Berdasarkan data jumlah pemudik lebaran pada atas dapat diidentifikasi akan terjadi kerumunan manusia dalam jumlah tinggi terutama di lokasi pelayanan transpotasi umum seperti terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara. Kerumuman yang gembung ini membuat interaksi antar bani adam semakin tinggi sehingga penerapan social/physical distancing menjadi tidak efektif & berpotensi tinggi dalam menyebabkan penyaluran virus covid-19.

Jumlah penumpang yang tidak sebanding dengan sarana trasnportasi umum yang disediakan pemerintah juga berpotensi menyebabkan adanya kontak secara fisik antar pengikut akibat berdesak-desakan.

Fenomena mudik lebaran yang melibatkan jutaan penduduk ini sudah begitu membudaya di semua lapisan masyarakat Nusantara. Aktivitas tersebut mungkin akan sulit ditiadakan sama sekali meskipun masa ini pandemi Covid-19 belum mundur, dibuktikan dari bertambahnya kasus ODP, PDP hingga kasus orang yang positif terjangkit virus tersebut. Buat itu kebijakan pemerintah dalam mengikhtiarkan hal tersebut sangatlah dibutuhkan, bagaikan melarang penduduk untuk mudik lebaran.

Selain itu kesadaran dari penduduk agar tidak mudik lebaran dulu atau menunda dalam waktu lain saat kondisi telah aman terkendali juga sangat diharapkan untuk dapat memutus mata pertalian Covid-19. Ketika kita dihadapkan alternatif yang serba sulit, antara silaturahmi dan menyebarkan wabah maka tangkap yang memiliki manfaat dan jangan memilih yang membawa madharat. Menunda pulang untuk segera mengakiri malang yang berkepanjangan, itulah pilihan yang beradab. (*)

Oleh: Andi Hidayat, S. Pd., Guru Geografi MAN 1 Gunungkidul

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id