paru-donor-hidup

Mula-mula di Dunia, Transplantasi Paru Hidup kepada Pasien Covid-19

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pertama di negeri, seorang wanita di Jepang menjadi pasien Covid-19 yang menerima transplantasi paru donor hidup dari anak dan suaminya.

Dilansir BBC, pasien ini menerima segmen paru-paru dari anak dan suaminya setelah organnya gagal karena kerusakan akibat virus corona.

Dokter di rumah kecil Kyoto berharap dia akan sembuh total dalam kaum bulan.

Daftar tunggu untuk transplantasi paru lengkap, dimana organ disediakan oleh donor yang sudah meninggal, sangat panjang prosesnya di Jepang dan dalam tempat lain di dunia.

Prosedur di Rumah Lara Universitas Kyoto, Jepang cuma membutuhkan waktu sekitar 11 jam untuk melakukannya. “Baik donor maupun pasien di kondisi stabil, ” introduksi dokter.

paru-donor-hidup-2.jpg

Lusinan transplantasi paru-paru untuk mengobati infeksi virus corona telah dilakukan di China, Eropa, dan Amerika Serikat dengan menggunakan paru-paru donor organ dengan telah meninggal dunia. “Tetapi daftar tunggu bisa berlaku bertahun-tahun di Jepang, ” kata rumah sakit tersebut.

Menurut sendi sakit, sementara lusinan transplantasi paru-paru untuk mengobati kerusakan setelah infeksi Covid-19 telah dilakukan dengan menggunakan bagian dari donor mati akal di China, Amerika Serikat dan Eropa, masa nanti pasien bisa selama dua dan satu tahun. Separuh tahun di Jepang, pada mana hanya ada kecil donor seperti itu.

Setelah diputuskan kalau wanita dalam kasus itu tidak memiliki harapan buat sembuh dan hanya transplantasi paru-paru yang dapat menyelamatkan nyawanya, suami dan putranya menawarkan untuk menyumbangkan sebagian dari paru-parunya.

Operasi dilanjutkan setelah keduanya juga sudah diingatkan efek penurunan kapasitas paru-paru pada pihak mereka.

Biasanya ada batasan siapa yang dapat menjalani transplantasi paru berdasarkan usia dan kondisi fisik, dengan proses terbatas pada orang gelap dan mereka yang memiliki penyakit jika terjadi kebobrokan akibat Covid-19.

Profesor Hiroshi Date, seorang ahli bedah toraks yang bertanggung jawab atas operasi tersebut, mengatakan kepada Kyodo News: “Saya pikir tersedia banyak harapan untuk perawatan ini dalam arti kalau ini menciptakan pilihan hangat. ”

Wanita yang tinggal di Jepang bagian barat itu tidak memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, namun fungsi pernapasannya memburuk dengan cepat setelah dia terkena Covid-19 pada akhir tahun lalu. Dia juga menderita pneumonia dan itu yang menyebabkan kedua paru-parunya mengeras dan menyusut, menghancurkan beberapa besar fungsinya. (*)