New Normal dalam Abnormal Disiplin

TIMESINDONESIA, JAMBI – Akhir-akhir itu New normal di media sosial menjadi pembicaraan publik, seolah cara bisa memberikan sebuah harapan baru untuk menjalani kehidupan yang biasa tanpa adanya virus Corona.

Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini menimbulkan berbagai polemik berbagai pakar dan politisi. Melihat angka penyebaran virus Corona yang masih begitu luhur merupakan perihal yang cukup adil jika banyak adanya pro & kontra. Dengan adanya kebijakan New normal di tengah situasi penyebaran virus Corona yang masih lulus tinggi tidak mengherankan banyak dengan khawatir. Walaupun pada dasarnya pemerintah memberikan sebuah kebijakan untuk klub yang menjalankan aktivitas di luar rumah untuk menggunakan protokoler kesehatan tubuh yang sudah diterbitkan.

Tetapi pertanyaannya apakah masyarakat siap untuk mematuhi peraturan protokoler kesehatan tubuh yang sudah ditentukan? Itulah dengan perlu dikaji lebih dalam.

Respons kesadaran masyarakat dalam ketaatan mematuhi protokoler kesehatan yang sudah ditetapkan merupakan hal dengan cukup mutlak untuk di tekankan. Perlu diketahui, berdasarkan Update Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 per tanggal 17-06-2020, Data tebaran Global, Virus ini menyebar di 216 Negara, Terkonfirmasi 8. 661. 550, Meninggal 440. 290 pantas untuk di Indonesia Positif 41. 431, Sembuh 16. 243 dan Meninggal 2. 276 ‘Dikutip sejak laman, Http: // covid19. go. id.

Data penyaluran virus tersebut sejak diterbitkannya kecendekiaan New normal setiap harinya setidaknya hampir 1000 lebih pasien terkonfirmasi terkena virus Corona. Penyebaran dengan cukup tinggi tersebut seharusnya dikaji lebih dalam dengan adanya sistem yang cukup ketat dalam mendisiplinkan masyarakat untuk taat terhadap protokoler kesehatan. Mengingat kecenderungan yang tersentuh virus merupakan orang yang tidak mengikuti aturan dari protokoler kesehatan itu sendiri, seperti memakai masker, rajin cuci tangan dan bangun jarak aman.

Kecendekiaan New normal seharusnya lebih bagus dilakukan dalam sekala lintas kabupaten atau provinsi, mengingat tanpa adanya batasan keluar masuknya masyarakat ke berbagai daerah lebih meningkatkan kehormatan penyebaran Virus Corona. Seperti wilayah Jakarta di mana daerah tersebut merupakan zona merah untuk penyebaran Covid-19. Akan tetapi beberapa minggu ini kemacetan sudah cukup penuh di daerah Jakarta, akibat mulut mudiknya masyarakat dari luar kawasan, padahal itu merupakan dalam provinsi pembatasan bersekolah besar. Otomatis asosiasi yang sudah sampai di Jakarta dan kembali lagi ke daerah asal akan cenderung lebih tumbuh membawa virus tersebut.

Menurut data PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menyebut penumpang bus masih banyak yang berdesakan hanya untuk mendapatkan tempat duduk. Dikutip sebab wartakotalive. Com. Permasalahan seperti ini merupakan suatu tindakan yang patut untuk kita cegah, mengingat bangsa Indonesia banyak yang cenderung kurang disiplin terhadap aturan. Akibatnya itu yang mematuhi protokoler kesehatan bakal terdampak juga disebabkan karena adanya yang melanggar aturan yang telah ditetapkan.

Dari penuh permasalahan yang terjadi sudah selayaknya pemerintah dalam menerapkan kebijakan New normal dibarengi dengan kebijakan penegasan disiplin ketat terhadap masyarakat untuk menggunakan protokoler kesehatan. Seperti secara pemberian denda yang cukup gembung untuk yang melanggar aturan dan menyiagakan pihak kepolisian atau instansi yang terkait untuk mengawal kebijaksanaan New normal tersebut dapat diterapkan dengan optimal.

Beberapa pemaparan yang telah penulis sampaikan makan dapat disimpulkan bahwa kebijakan New normal yang di jalankan oleh pemerintah seharusnya di kaji lagi lebih mendalam. Mengingat penuh masyarakat yang tidak mengikuti petunjuk protokoler kesehatan, sehingga dapat memajukan penyebaran Virus Corona semakin berkembang. Karena dalam kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah cenderung kurang untuk mendisiplinkan masyarakat yang melanggar petunjuk. Sehingga ditakutkan perjuangan yang sudah dilakukan untuk tetap stay pada rumah dalam kurun waktu 3 bulan yang ada akan berlaku sia-sia.

***

*) Oleh: Fathul Yasin, Mahasiswa Program Studi Menuntut Pemerintahan Universitas Jambi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya ialah tanggungjawab penulis, tidak menjadi periode tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Lama naskah maksimal 4. 000 sifat atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon dengan bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini dengan dikirim.