Pagebluk Corona vs Wabah Korupsi

Pagebluk Corona vs Wabah Korupsi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Dalam perbincangan santai secara teman-teman, mungkin karena sudah merasa jenuh memperbincangkan virus corona, salah seorang mengajukan pertanyaan. Mengapa korupsi ini lebih sulit diberantas dibanding virus corona?

Disebutkan, covid-19 ini sekalipun cepat meluas tanpa batas, tetapi datangnya tidak sepanjang waktu. Tapi sifatnya musiman. Pada saatnya virus itu bakal hilang dengan sendirinya.

Hal itu berbeda dengan korupsi. Tidak mengenal musim, wilayah, & waktu. Di mana saja dan kapan saja, bisa terjadi kasus-kasus korupsi. Baik skala kecil maupun besar.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang terjadi dengan manipulasi itu? Dan, kalau masih tersedia cara yang tersisa, bagaimana mencegahnya?

Banyak orang mengira-ngira, perilaku korupsi bisa dicegah melalui ceramah, nasehat, pengajian, seminar, pelatihan, dan semacamnya. Jika cara itu masih dipercaya, bukankah sudah sedemikian banyak berbagai kegiatan tersebut telah dilakukan. Namun ternyata korupsi di mana-mana masih terjadi. Bahkan nilainya semakin besar.

Sesungguhnya, jika direnungkan secara mendalam, masih ada cara yang belum banyak disentuh selama ini. Yakni menggunakan mengubah sumber perilaku korupsi itu sendiri.

Para koruptor sesungguhnya sudah tahu bahwa manipulasi itu tidak baik. Korupsi itu perbuatan jahat. Merugikan dirinya sendiri, maupun keluarganya. Baik di dunia maupun di akherat.

Mereka pasti sudah mengetahuinya. Perumpamaan para koruptor disuruh berceramah tentang korupsi, sangat mungkin ceramahnya tidak kalah baik dibanding dengan orator lainnya.

Tapi kok mereka masih korupsi? Pertanyaan ini lah seharusnya kita jawab. Apa nyata yang menggerakkan dirinya sampai mengerjakan sejahat itu.

Kebusukan itu sebenarnya tumbuh dari barang apa yang ada di dalam sinting. Sekalipun ada peluang dan tersedia kebutuhan, manakala apa yg ada di dalam hati tidak sedia melakukannya atau memiliki ketahanan yang kokoh, perbuatan buruk itu tak akan dilaksanakan. Kalau demikian halnya, persoalannya adalah terletak pada kekuatan ketahanan dalam hati itu.

Hati akan menjadi kokoh kalau sehat. Begitu pula sebaliknya. Sekarang, bagaimana membikin hati menjelma selalu sehat sehingga memiliki ketahanan yang kokoh?

Hati sebenarnya bukan menjadi urusan sembarang orang. Ada yang bisa mengatur dan bahkan sebenarnya ada petunjuk untuk memperbaikinya dalam al Qur’an. Sayang banyak orang tidak pelajaran. Tanpa terkecuali. Termasuk mungkin para cendekiawan dan ulama’ sekalipun.

Jika ada yang mendapati dan dipercaya menjelaskan serta diikutinya, tentang cara mengurus hati supaya memiliki ketahanan yang kokoh dimaksud, maka akan memberi sumbangan luhur pada bangsa ini. Manakala menyekat korupsi dilakukan dengan pendekatan membenarkan sumber kekuatan penggeraknya, maka tanpa kekuatan polisi, jaksa, hakim, dan bahkan penjara sekalipun, Insya Tuhan korupsi bisa dihilangkan. (*)

*Penulis adalah Prof Imam Suprayogo, guru besar UIN Rengsa, ketua Dewan Penasehat DPW SAHI Jawa Timur, dan anggota Lembaga Pembina Yayasan Unisma Malang.

*)Tulisan Pandangan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau kira-kira 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini dengan dikirim.