M.-Dalhar

Posonan Ramadan di Sekolah

TIMESINDONESIA, JEPARA – Di bulan suci Ramadan ini terdapat banyak fasilitas yang dapat digunakan untuk menambah pemahaman keagamaan. Melalui kanal youtube, siaran televisi atau media lainnya tersedia banyak tayangan yang mengedukasi tentang keislaman. Selain itu, di masjid atau musholla juga diselenggarakan kajian rutin selama Ramadan. 

Dunia pendidikan formal juga tidak tertinggal untuk menyelenggarakan kegiatan serupa. Meskipun pandemi belum sepenuhnya usai, namun ikhtiar untuk melanjutkan proses pembelajaran di sekolah tetap dilaksanakan. Proses pembelajaran daring yang cenderung monotone dan “membosankan” harus dilalui sebagai bagian dari pengalaman belajar di masa pandemi.

Dalam hal kegiatan Ramadan atau yang lazim disebut posonan, pembelajaran daring untuk sementara tidak dapat dilaksanakan. Hal ini berdasar surat edaran dari pemerintah terkait KBM selama bulan Ramadan, yaitu diarahkan untuk peningkatan keimanan, ketakwaan, pendalaman, pemahaman, dan keterampilan beribadah. Meski tidak secara jelas disebutkan untuk pembelajaran di kelas, tetapi sulit membayangkan bagaimana sulitnya mengajarkan program Ramadan dengan jarak jauh atau daring. 

Sejauh pengamatan penulis, ragam kegiatan posonan di sekolah antara lain: praktik ibadah, mengaji kitab-kitab klasik karangan para ulama yang lazim disebut Kitab Kuning, tadarus al-Qur’an, dan buka bersama sambil mendengarkan ceramah dari dewan guru atau ulama setempat. Masing-masing sekolah memiliki cara tersendiri dalam memasukkan materi keagamaan dalam jam belajar.

Harapan besar dengan materi-materi yang disampaikan dapat menambah wawasan dan pemahaman para siswa dalam urusan agama. Dengan bekal tersebut diharapkan dapat meningkat pada praktik pelaksanaan ibadah dan kehidupan sosial. Terlebih lagi bagi sekolah agama atau madrasah yang memiliki keunggulan khas dalam bidang agama.

Tradisi Pesantren 

Istilah posonan merupakan khasanah dunia pesantren. Sesuai dengan namanya, istilah ini hanya dipakai pada saat bulan Ramadan. Para santri, baik mukim maupun tidak mukim yang dikenal dengan istilah santri kalong, dapat mengkaji beberapa kitab sekaligus dalam waktu yang relatif singkat. 

Ada pula pesantren yang melakukan kajian kitab secara tematik kepada para santrinya. Selain pada pemahaman, tujuan lain dari kegiatan posonan adalah mengharapkan berkah (tabarrukan) dari para penulis kitab. Di samping itu pula adalah dalam rangka untuk mendapatkan mata rantai (sanad) keilmuan. Sanad ini merupakan salah satu kekhasan dunia pesantren (Dhofier, 1987). 

Di pesantren kegiatan semacam ini sudah berlangsung lama karena kemuliaan bulan suci Ramadan. Meski belum diketahui secara persis kapan tradisi posonan ini berkembang di pesantren, penulis menduga tradisi ini berkembang bersamaan dengan tumbuh-kembangnya pesantren. Kemuliaan Ramadan menjadi alasan yang utama.  

Dengan alasan yang sama pula, kegiatan posonan diselenggarakan di beberapa sekolah. Sejumlah prasyarat dan pertimbangan dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran di dalam kelas (luring). Sulit rasanya membayangkan bagaimana para siswa dapat fokus mengikuti kajian keagamaan jika hanya dilakukan di rumah. Mengingat, membaca teks agama atau praktik membutuhkan bimbingan intens, bukan sekadar tugas mandiri. 

Ada sebagian sekolah yang mengkaji secara khusus kitab tertentu dan hatam selama program pososnan. Beberapa kitab yang lazim dibaca adalah safinah an-Najah, Risalatu Al-Siyam, Taqrib, dan lain sebagainya. Kitab-kitab yang dibaca menyesuaikan dengan tingkatan atau jenjang. Ada pula yang melanjutkan kitab-kitab yang sudah dibaca dalam pembelajaran. Biasanya pembacaan kitab dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal. 

Berbeda dari pesantren, program posonan di sekolah adalah tambahan. Tidak seluruhnya waktu digunakan untuk mengkaji kitab atau kajian agama. Materi-materi yang lain tetap diajarkan dengan durasi waktu yang lebih singkat. Terlebih lagi selama masa pembelajaran daring ada materi-materi yang belum tersampaikan dengan baik. Ramadan juga menjadi momentum untuk menuntaskan materi yang belum tuntas.  

Dengan program posonan, meski tidak dapat seratus persen sama dengan pesantren, setidaknya para siswa dapat merasakan menjadi santri di bulan Ramadan ini. Mengaji Kitab Kuning gundhul adalah salah satu kehasan pesantren. 

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan posonan di sekolah adalah pentingnya ketekunan dalam belajar. Untuk membaca Kitab Kuning dibutuhkan seperangkat ilmu alat yang menunjang. Belum lagi memberi makna satu persatu dari setiap kata (lafdz) berbahasa Arab ke dalam bahasa lokal. Itu belum termasuk pamahaman dan praktiknya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah adalah mengharapkan keberkahan dari karya yang dikaji. 

***

*)Oleh: M. Dalhar, Pengajar di Madrasah Swasta di Jepara.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.