Prof Nidhom: Jangan Ada RS Dorong Pelayanan Pasien Covid-91

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) sudah memakan objek di Indonesia hingga puluhan seperseribu jiwa. Terlebih di Kota Surabaya merupakan zona merah yang setiap hari terus bertambah jumlah anak obat Covid-19 yang mendunia ini.

Menyikapi hal tersebut, Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom, drh., MS, Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengungkapkan bahwa, keberadaan suatu rumah sakit, laboratorium, puskesmas, ataupun yayasan kesehatan merupakan dengan dibutuhkan saat ini di pusat pandemi Covid-19.

“Keberadaan rumah sakit apalagi itu hak pemerintah/ negara merupakan bentuk atau mewakili kehadiran negara di sedang wabah terhadap warga negaranya, ” ungkap Prof. Nidom.

Lanjutnya, Prof. Nidom tidak membantu rumah sakit yang menolak penyajian terlebih di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

“Dalam situasi wabah pandemi Covid-19 itu, sebaiknya tidak ada rumah rendah yang menolak pelayanan pada penanggung pandemi, baik secara tersirat makin tersurat/ terbuka, ” tuturnya di TIMES Indonesia, Sabtu (30/5/2020).

Selain itu, Founder Yayasan Profesor Nidom Foundation ini mengusulkan agar rumah sakit di Nusantara khususnya di Surabaya agar lebih fokus dan efisien dalam pelayanan, sehingga semestinya rumah sakit mampu dikelompokkan berdasarkan usia kerentanan & penyakit bawaan penderita Covid-19.

“Sehingga akan ada rumah sakit yang melayani penderita Covid19 dengan kelainan jantung, ginjal, ataupun bawaan diabetes, dan lain-lain. Mengingat fatalitas Covid-19 bukan semata dikarenakan oleh Covid-19 saja, tetapi juga oleh usia kerentanan dan penyakit bawaan atau infeksi-infeksi yang lain, ” tutur Prof. Nidom.

Kendati demikian, pandemi Covid-19 ini mengajak kita untuk membuat solidaritas dan disiplin akan peraturan yang ada demi melawan Covid-19 ini yang tidak pasti pustaka berakhirnya. Hal ini membuat para-para pimpinan negara terkadang bingung secara langkah apa yang seharusnya hendak diambil, sehingga adanya perseteruan jarang pimpinan satu dengan lainnya.

“Seharusnya tidak sepatutnya para pimpinan negara ini mempertontonkan narasi-narasi komunikasi yang tidak lazim karena semua ini bisa menciderai perasaan masyarakat terutama dalam membangun kebersamaan di tengah Covid-19 ini. Seyogyanya semua itu bisa diselesaikan pada pertemuan/komunikasi intensif, dalam bingkai membuat solidaritas nasional untuk menghadapi Pandemi ini, ” ujar Prof. Nidom. (*)