Saat Pupuk Langka, Warga Jember Ini Malah Timbun 4 Ton Gemuk Bersubsidi di Bondowoso

Saat Pupuk Langka, Warga Jember Ini Malah Timbun 4 Ton Gemuk Bersubsidi di Bondowoso

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Ketika pupukdi petani langka. Seorang warga Jember UF (38) malah melakukan penimbunan 4 ton gemuk bersubsidi Urea di Bondowoso.

Akibatnya ia harus berurusan dengan aparat kepolisian.

UF bukan pemilik kios ataupun distributor. Namun ia menjual pupuk tersebut. Bahkan dengan harga jual di atas Harga Eceran Sempurna (HET).

Pupuk Urea 4 ton ia beli dari Lumajang sepekan lalu, Selasa (24/11/2020). Kemudian ditimbun untuk diecer ke petani di Kabupaten Banyuwangi.

Kapolres Bondowoso, AKBP Erick Frendriz mengatakan, tersangka UF berhasil ditangkap di Kecamatan Tamanan.

Menurutnya, tersangka memanfaatkan ketika kelangkaan pupuk ini untuk mengambil keuntungan.

“Yakni dengan menimbun pupuk subsidi di vila salah seorang warga di Tempat Tamanan, Kecamatan Tamanan, ” jelasnya.

Berdasarkan pengakuan tersangka, pupuk ini dibeli secara satuan di Lumajang. Setelah terkumpul, hangat diangkut ke Tamanan Bondowoso. “Selanjutnya hendak disalurkan ke Banyuwangi, ” imbuhnya.

Saat ditimbun di Tamanan inilah, pihak kepolisian memperoleh laporan dari warga sekitar yang merasa curiga dengan kegiatan penyewa rumah. “Polisi kemudian melakukan penangkapan, ” imbuhnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Bondowoso, AKP Agung Ari Bowo mengutarakan, bahwa tersangka menjual pupuk pada petani di Banyuwangi dengan makna Rp 300 ribu hingga Rp 320 ribu per kuintal.

“Kalau beli di Lumajang katanya beli dengan harga Rp 250 ribu per kuintal, ” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (2/11/2020).

Menurutnya, kondisi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab kelangkaan pupuk di Lumajang. Pasalnya pupuk bersubsidi yang harusnya dijual kepada petani dengan mengacu di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Gemuk (RDKK).

“Justru dijual kepada tersangka UF yang memang bukan petani ataupun distributor makin pemilik kios, ” jelasnya.

Saat ini pihaknya cukup mengembangkan kasus ini. Dari sapa tersangka UF membeli pupuk dalam Lumajang.

UF disangkakan melanggar UU darurat no 7/55 tentang pidana ekonomi Jo perkara 4 huruf a PP substitusi UU no 8/62 tentang perdagangan barang dalam pengawasan. “Ancaman balasan pada pupuk bersubsidi tersebut 2 tahun penjara, ” jelasnya. (*)