Sapa yang Berpuasa; Aku atau Tubuhku?

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Judul dalam tulisan ini mungkin oleh sementara orang dianggap aneh. Menyesatkan tidak bisa jadi dianggap tidak lazim. Siapa sebenarnya yang dimaksud aku pada diriku ini. Apakah setiap orang yang mengatakan saya, pasti sudah tahu siapa faktual yang dimaksudkan dengan kata hamba itu.

Tanpa diajari oleh siapapun, secara reflektif, kala seseorang menyebut kata aku, lengah kanannya menunjuk pada dadanya. Seolah-olah yang bersangkutan ingin menunjukkan kalau aku yang dimaksud itu berharta dalam dadanya.

Tanpa disadari pula, seseorang mengatakan kakiku sakit, perutku kenyang, hidungku terhambat, telingaku tidak bisa mendengar, mataku terkena debu, kepalaku pusing, otakku terasa capek, dan seterusnya. Introduksi aku yang disambungkan dengan lupa satu anggota badan tersebut membuktikan miliknya. Sebutan kakiku berarti menguasai milikku. Kepalaku menunjuk pada besar miliknya. Otakku berarti, otak dengan dipunyainya.

Ungkapan tersebut tidak salah, tetapi aku yang dimaksudkan itu sebenarnya yang mana. Siapa sebenarnya yang memiliki bersantai, tangan, rambut, mata, hidung, jalan dan seterusnya yang disebut miliknya itu. Lalu aku yang mempunyai semua anggota tubuh dimaksud sebenarnya siapa. Kita sedang berada pada bulan Ramadhan, kiranya berguna merenungkannya sejenak, siapa sebenarnya aku dengan sedang berpuasa ini.

Manusia selain terdiri atas dzahir juga batin. Dzahir manusia berasal dari hubungan suami isteri kurun ayah dan ibunya masing-masing. Oleh karena itu lahirlah manusia dalam bentuk awak yang bisa dilihat, diraba, serta juga difoto atau digambar. Awak ini tidak sempurna manakala tak disempurnakan oleh Allah dengan ditiupkan ruh.

Dikatakan di dalam al Qur’an: “Aku sempurnakan dengan aku tiupkan ruh, dan aku jadikan pendengaran, penglihatan, dan hati. Tetapi sedikit sekali orang yang bersyukur. Ruh inilah yang selama ini disebut manusia di pengertian batinnya.

Bahkan jika direnungkian secara mendalam, malah ruh inilah sebenarnya yang menjadi kekuatan hingga manusia bisa tumbuh. Dengan ruh inilah manusia bisa mendengarkan, melihat, merasakan, berpikir, berjalan, dan mengembangkan sains dan teknologi yang hasilnya luar biasa ini. Sebab karena itulah, yang disebut “aku” adalah ruh ini.

Ruh yang dimaksud pada zaman manusia tidur melepaskan diri dibanding tubuhnya. Dalam Bahasa al Qur’an digenggam oleh Allah. Oleh karena itu, pada saat manusia pantas tidur, sekalipun masih memiliki gegabah, telinga, hidung, mulut, otak, dan sebagainya, semuanya tidak bisa berfungsi, oleh karena yang punya yaitu ruhnya sedang tidak berada di tubuhnya.

Apalagi, ketika membuka itu sudah diambil dan balik untuk selama-lamanya, maka tubuh dan semua perangkatnya tidak berguna lagi. Karena tubuhnya sudah ditinggal pemiliknya, yaitu ruhnya. Akhirnya, sekujur tubuhnya, yang kemudian disebut jasad, harus segera dimandikan, dikafani, dishalatkan, serta dikuburkan. Jasad itu dikuburkan oleh karena sudah ditinggal oleh pemiliknya untuk selama-lamanya.

Kalau dipikir dan direnungkan secara mendalam, sebenarnya yang disebut “aku” adalah pemilik tubuh yang tampak & dapat dilihat oleh siapapun. Awak ini, diumpamakan kopi, atau teh, adalah cangkir, gelas, atau sekedar tempatnya. Intinya atau yang hendak diminum adalah kopi dan ataupun tehnya itu. Ruh adalah pokok manusia yang sebenarnya. Jasmani atau tubuh hanyalah sebagai tempat atau wadah belaka.

Oleh karena itu, jika seseorang bertarak, maka yang berpuasa sebenarnya merupakan “aku”. Sedangkan yang dimaksudkan dengan aku, bukan bersifat jasmaniah, mengecualikan ruhaniah. Berbeda dengan ketika sajian dan minum yang dimaksudkan merupakan agar tidak lapar dan tak haus. Sifatnya adalah jasmaniah. Namun berpuasa yang ingin diraih adalah agar menjadi bertaqwa. Sifatnya adalah ruhaniah.

Taqwa tidak bersifat fisik, melainkan berada dalam wilayah batin. Yang bertaqwa itu adalah “aku”. Maka yang dilatih dan dipuasakan seharusnya adalah segala apa yang ada di dalam sinting. Menghindari makan, minum, dan hubungan suami isteri di siang keadaan sebenarnya hanyalah sekedar menguji, apakah dengan keadaan lapar, haus, & dorongan sek, masih mampu menjauhkan dorongan yang dipuasakan.

Atas dasar pengertian tersebut, banyak orang berpuasa disebut tidak menyabet apa-apa kecuali lapar dan mendambakan. Karena yang dipuasakan hanya lambung miliknya “aku” dan bukan akunya sendiri. Puasa yang dimaksudkan agar mendapat derajad taqwa adalah yang berhasil mempuasakan “aku” dari provokasi hawa, nafsu, dunia, dan setan. Jika lulus, itulah disebut bertaqwa, derajad paling mulia di depan Allah dan rasulNya. Wallahu a’lam. (*)

* Penulis adalah Prof Imam Suprayogo (guru besar UIN Malang).