Moh-Syahri

Terorisme dan Kultur Modernitas

TIMESINDONESIA, UDI – Tragedi yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan beberapa hari yang lalu, seakan-akan menunjukkan kalau nasionalisme bangsa yang berkelakuan pluralistik sedang mengalami krisis. Aksi terorisme ini selayaknya akan terus membayang-bayangi kehidupan umat manusia di masa-masa yang akan datang selama pola pandang terhadap terorisme dan cara penyelesaiannya sedang bersifat parsial dan sedang mengedepankan kekerasan sejenisnya.

Staf MUI & Presiden Joko Widodo merespon kejadian terbaru bom pati padam diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Daksina. Ia mengatakan bahwa terorisme Jangan dikaitkan dengan petunjuk. Tentu respon beliau-beliau tersebut menjadi bola liar pada tengah masyarakat sebab semasa ini hampir semua pelaku teroris pasti ada kaitannya dengan agama.

Menurut saya respon itu tidak seluruhnya salah tapi juga tidak seluruhnya benar’. Prihal statement dan respon pak Jokowi mungkin ia lebih hati-hati untuk mengatakan ada persoalan dalam pengajaran agama islam yang bisa mendorong orang untuk menyelenggarakan tindakan menyakiti orang lain sebab jika narasi serupa itu harus dilontarkan ke publik oleh sekelas Jokowi, mungkin saja banyak orang islam yang mudah terpicu amarahnya dan Jokowi makin tersudutkan. Mungkin lho ya. Boleh kalau yang Staf MUI. Dan boleh jadi pas.

Kenapa bisa demikian, sebab hal itu bisa membuat kita mengarah apriori dengan melakukan penyederhanaan persoalan bahwa pelaku teror pasti kaum fundamentalisme petunjuk. Sekali lagi, mungkin bungkus Jokowi mengantisipasi kejadian tersebut (ini mungkin lho ya).

Namun persoalan lainnya begini, bahwa banyak kasus karakter yang melakukan tindak kebengisan itu dimotivasi oleh “semangat keagamaan” memang iya dan harus diakui. Bahkan kira-kira riset mengatakan seperti itu. Artinya secara kasuistik sungguh ada. Dan itu terjadi beringin dengan penciptaan petunjuk sebagai ideologi yang langsung dikembangkan untuk melawan klan lain yang berbeda ideologinya. Dalam tulisan lain aku tegas mengatakan bahwa setiap ada kasus terorisme pada Indonesia khususnya pasti tersedia kaitannya dengan agama. Lebih-lebih pada ajaran agama tunggal.

Dalam negeri modern hari ini dampak-dampak negatif yang dibawa tamadun modernitas ternyata memberikan sokongan nyata terhadap pengembangan pegangan sebagai ideologi. Amstrong melalaikan The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Cristianity and Islam (2002) membaca bahwa selain memberikan kemudahan, memperluas cakrawala dan memberdayakan umat manusia, kultural modern juga sering menekan nilai diri manusia.

Pada saat yang setara manusia modern mengandalkan akalnya saja sembari meninggalkan ketergantungan pada tuhan. Sehingga moralitasnya merosot dan martabat nilai dirinya hancur. Ini lah munculnya bibit kekerasan gede yang biadab akibat kacau (modernitas) menjadi satu-satunya andalan untuk dijadikan tolak ukur dalam lini kehidupannya.

*) Penulis: Moh. Syahri (Pelajar, Santri dan Mahasiswa Sekolah Luhur Agama Islam Ma’had Aly Al-Hikam Malang).

*)Tulisan Paham ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

_______
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 ciri atau sekitar 600 cakap. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id